Bukti Nyata AI Bikin Gen Z Sulit Cari Kerja

  • Maskobus
  • Aug 28, 2025

Munculnya kecerdasan buatan (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pasar tenaga kerja. Bagi generasi Z (Gen Z), yang baru memasuki dunia kerja, kehadiran AI menimbulkan tantangan tersendiri. Sebuah studi yang dilakukan oleh Stanford University di Amerika Serikat mengungkap bahwa AI berkontribusi pada penurunan lowongan pekerjaan yang signifikan bagi para pekerja muda, khususnya mereka yang berusia antara 22 hingga 25 tahun. Penurunan ini terutama terasa pada pekerjaan-pekerjaan yang sangat terpapar AI, seperti pengkodean dan layanan pelanggan. Dengan kata lain, Gen Z yang bekerja di bidang-bidang yang rentan terhadap otomatisasi AI menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam mencari pekerjaan.

Kekhawatiran tentang dampak AI terhadap tenaga kerja semakin meningkat sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada tahun 2022. Analisis yang dilakukan oleh para peneliti dari Stanford Digital Economy Lab, Erik Brynjolfsson, Ruyu Chen, dan Bharat Chanda, merupakan salah satu upaya paling komprehensif untuk mengukur dampak AI menggunakan data empiris. Para ekonom ini mempelajari tren ketenagakerjaan dari akhir 2022 hingga Juli 2025 untuk melihat bagaimana AI memengaruhi pasar kerja.

"Yang langsung terlihat saat kami melakukan analisis adalah perbedaan besar berdasarkan kelompok usia. Hasilnya cukup mencengangkan," ujar Chandar, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan penurunan tajam dalam profesi yang terpapar AI pada pekerja muda. Misalnya, lapangan kerja pengembang perangkat lunak di awal karier mengalami penurunan hampir 20% dari puncaknya di akhir tahun 2022. Penurunan serupa juga terjadi pada pekerjaan-pekerjaan di bidang komputer dan petugas layanan lainnya. Sebaliknya, pekerjaan yang kurang terpapar AI, seperti asisten perawat, tetap stabil atau bahkan mengalami peningkatan.

Menariknya, pekerja yang lebih berpengalaman justru mengalami peningkatan lapangan kerja di bidang yang sama dalam beberapa tahun terakhir. Para peneliti berpendapat bahwa keterampilan dan pengalaman yang diperoleh selama bertahun-tahun menjadi aset berharga bagi karyawan yang lebih tua, sehingga mereka lebih mampu beradaptasi dengan perubahan yang dibawa oleh AI.

Bukti Nyata AI Bikin Gen Z Sulit Cari Kerja

Studi ini juga menemukan bahwa hilangnya pekerjaan terkonsentrasi pada peran-peran di mana AI dapat sepenuhnya mengotomatiskan tugas dengan sedikit atau tanpa masukan manusia. Di bidang-bidang di mana AI melengkapi pekerjaan dengan membantu karyawan belajar, meninjau, atau meningkatkan diri, lapangan kerja justru meningkat.

"Dalam pekerjaan-pekerjaan di mana AI paling augmentatif, kami tidak melihat penurunan lapangan kerja dan faktanya, kami melihat pertumbuhan lowongan, bahkan untuk pekerja muda," kata Chandar. Hal ini menunjukkan bahwa AI tidak selalu menggantikan pekerjaan manusia, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja.

Laporan ini bertepatan dengan pergeseran dalam minat pendidikan tinggi dari bidang-bidang yang terpapar AI. Pendaftaran di jurusan Ilmu Komputer, yang meningkat empat kali lipat di AS antara 2005 dan 2023, hanya tumbuh 0,2% tahun ini. Ilmu Komputer dianggap sebagai salah satu jurusan yang paling terimbas AI, sehingga penurunan minat ini mungkin mencerminkan kekhawatiran tentang prospek kerja di bidang tersebut.

Meskipun AI menimbulkan tantangan bagi Gen Z dalam mencari pekerjaan, penting untuk diingat bahwa gangguan teknologi di masa lalu pada akhirnya akan stabil. Pergeseran teknologi sebelumnya awalnya menggantikan pekerja, tetapi kemudian menciptakan jenis-jenis pekerjaan baru.

"Secara historis, seiring pekerjaan digantikan teknologi baru, ada pekerjaan baru yang tercipta," kata Chandar. Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan era digital dan beradaptasi dengan perubahan yang dibawa oleh AI.

Analisis Lebih Mendalam: Mengapa AI Lebih Memengaruhi Gen Z?

Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa AI lebih memengaruhi Gen Z dibandingkan generasi lainnya:

  1. Kurangnya Pengalaman Kerja: Gen Z, sebagai generasi yang baru memasuki dunia kerja, umumnya memiliki pengalaman kerja yang lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap otomatisasi AI, karena tugas-tugas yang mereka lakukan seringkali lebih sederhana dan mudah digantikan oleh mesin.

  2. Ketergantungan pada Keterampilan yang Mudah Digantikan: Beberapa anggota Gen Z mungkin terlalu fokus pada pengembangan keterampilan teknis yang mudah digantikan oleh AI, seperti pengkodean dasar atau entri data. Mereka mungkin kurang mengembangkan keterampilan lunak (soft skills) seperti komunikasi, pemecahan masalah, dan kreativitas, yang lebih sulit untuk diotomatisasi.

  3. Ekspektasi yang Tidak Realistis: Beberapa anggota Gen Z mungkin memiliki ekspektasi yang tidak realistis tentang dunia kerja, yang dipengaruhi oleh media sosial dan budaya startup. Mereka mungkin mengharapkan pekerjaan yang menyenangkan, fleksibel, dan bergaji tinggi tanpa menyadari bahwa sebagian besar pekerjaan entry-level membutuhkan kerja keras dan dedikasi.

Strategi untuk Gen Z dalam Menghadapi Tantangan AI:

Meskipun AI menimbulkan tantangan, Gen Z dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk meningkatkan prospek kerja mereka:

  1. Kembangkan Keterampilan Lunak: Fokus pada pengembangan keterampilan lunak seperti komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi. Keterampilan ini akan sangat berharga di era AI, karena mereka sulit untuk diotomatisasi dan sangat penting untuk berkolaborasi dengan mesin.

  2. Pelajari Keterampilan yang Relevan dengan AI: Pelajari keterampilan yang relevan dengan AI, seperti analisis data, machine learning, dan pengembangan AI. Keterampilan ini akan memungkinkan Anda untuk bekerja dengan AI dan menciptakan nilai tambah dalam pekerjaan Anda.

  3. Cari Peluang untuk Belajar dan Berkembang: Jangan berhenti belajar dan mengembangkan diri. Ikuti kursus online, hadiri konferensi industri, dan cari mentor yang dapat membantu Anda meningkatkan keterampilan dan pengetahuan Anda.

  4. Bangun Jaringan Profesional: Bangun jaringan profesional yang kuat dengan menghadiri acara industri, bergabung dengan komunitas online, dan terhubung dengan orang-orang di bidang Anda. Jaringan profesional dapat membantu Anda menemukan peluang kerja, mendapatkan saran karir, dan belajar dari orang lain.

  5. Bersikap Fleksibel dan Adaptif: Dunia kerja terus berubah, jadi penting untuk bersikap fleksibel dan adaptif. Bersedia untuk belajar hal-hal baru, mengambil risiko, dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Kesimpulan:

AI memang menimbulkan tantangan bagi Gen Z dalam mencari pekerjaan, tetapi juga membuka peluang baru. Dengan mengembangkan keterampilan yang relevan, beradaptasi dengan perubahan, dan membangun jaringan profesional yang kuat, Gen Z dapat mengatasi tantangan AI dan meraih kesuksesan di dunia kerja yang semakin digital. Penting untuk diingat bahwa AI bukanlah ancaman, tetapi alat yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja. Gen Z yang mampu memanfaatkan AI dengan bijak akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar kerja masa depan. Studi ini menjadi pengingat penting bagi lembaga pendidikan dan pemerintah untuk berinvestasi dalam pelatihan dan pendidikan yang relevan dengan era digital, sehingga Gen Z dapat memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk sukses di dunia kerja yang didorong oleh AI. Selain itu, perusahaan juga perlu berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan karyawan, sehingga mereka dapat beradaptasi dengan perubahan yang dibawa oleh AI dan terus memberikan nilai tambah bagi organisasi. Dengan kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, perusahaan, dan individu, kita dapat memastikan bahwa Gen Z memiliki kesempatan yang sama untuk sukses di era AI.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :