Deretan Gaji DPR di Beberapa Negara, Siapa yang Terbesar?

  • Maskobus
  • Aug 31, 2025

Isu gaji dan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kembali menjadi sorotan tajam publik, memicu gelombang kritik terhadap kebijakan yang dianggap tidak sebanding dengan kinerja yang diharapkan. Besaran penghasilan resmi wakil rakyat, yang dikabarkan menembus angka Rp 100 juta per bulan setelah penambahan tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta, semakin memperuncing perdebatan. Kebijakan ini, yang dimaksudkan sebagai pengganti fasilitas rumah dinas, justru menuai polemik karena dianggap tidak selaras dengan kondisi ekonomi masyarakat yang tengah tertekan.

Detail mengenai gaji pokok dan tunjangan anggota DPR sebenarnya telah diatur dalam surat edaran Sekjen DPR RI NO.KU.00/9414/DPR RI/XII/2010 dan surat Menteri Keuangan nomor S-520/MK.02/2015. Gaji pokok anggota DPR, yang juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2000, bervariasi berdasarkan jabatan, dengan tunjangan tambahan yang juga disesuaikan. Berdasarkan aturan tersebut, gaji pokok Ketua DPR adalah Rp 5,04 juta, Wakil Ketua Rp 4,62 juta, dan anggota biasa Rp 4,2 juta.

Secara nominal, gaji pokok anggota DPR mungkin terlihat relatif kecil, bahkan tidak jauh berbeda dengan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan menengah. Namun, gaji pokok hanyalah sebagian kecil dari total kompensasi yang diterima. Anggota dewan juga menerima berbagai tunjangan yang nominalnya disesuaikan dengan jabatan. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tunjangan yang diterima. Seiring waktu, komponen tunjangan terus bertambah, mencakup tunjangan jabatan, tunjangan kehormatan, tunjangan komunikasi intensif, serta berbagai fasilitas seperti uang sidang, asisten anggota, biaya listrik, telepon, dan tunjangan beras. Kombinasi inilah yang menyebabkan total penerimaan anggota DPR membengkak menjadi sekitar Rp 55-66 juta per bulan.

Puncak kontroversi terjadi ketika tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta per bulan secara resmi diberlakukan pada periode 2024-2029. Surat Sekretariat Jenderal DPR Nomor B/733/RT.01/09/2024 mengatur bahwa setiap anggota DPR berhak atas tunjangan rumah, sehingga penerimaan bulanan mereka langsung melonjak di atas Rp 100 juta. Dengan jumlah anggota DPR sebanyak 580 orang, anggaran negara harus mengalokasikan sekitar Rp 29 miliar per bulan hanya untuk membiayai tunjangan rumah, atau setara dengan Rp 1,74 triliun selama satu periode masa jabatan lima tahun.

Kebijakan ini memicu reaksi keras dari masyarakat, yang menilai kebijakan ini berlebihan dan tidak relevan dengan kondisi ekonomi yang sedang dialami. Argumen bahwa tunjangan rumah diperlukan agar anggota dewan dapat tinggal dekat dengan kompleks parlemen dianggap tidak masuk akal, mengingat tingkat kehadiran anggota DPR dalam rapat seringkali rendah. Kritik semakin tajam karena keputusan ini muncul di tengah upaya pemerintah untuk melakukan efisiensi anggaran negara. Di tengah retorika penghematan belanja negara, DPR justru menambah fasilitas baru dengan beban keuangan yang sangat besar. Kontras ini semakin menyoroti kesenjangan antara wakil rakyat dan masyarakat yang mereka wakili.

Deretan Gaji DPR di Beberapa Negara, Siapa yang Terbesar?

Kritik juga berfokus pada kinerja DPR secara keseluruhan. Banyak yang mempertanyakan apakah kinerja anggota DPR sebanding dengan besaran gaji dan tunjangan yang mereka terima. Angka kehadiran yang rendah dalam rapat, lambatnya proses legislasi, dan kurangnya respons terhadap isu-isu publik yang mendesak menjadi beberapa poin yang sering dikeluhkan. Tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas semakin menguat, dengan harapan agar anggota DPR lebih fokus pada kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi.

Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah gaji dan tunjangan anggota DPR RI lebih besar dibandingkan dengan anggota parlemen di negara lain, terutama negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dilakukan perbandingan gaji dan tunjangan parlemen di berbagai negara.

Perbandingan Gaji DPR di Berbagai Negara

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut perbandingan gaji anggota parlemen di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat (AS), Singapura, Malaysia, Belanda, dan Thailand. Data ini sebagian besar diambil dari IPU Parline dan sumber-sumber lain yang relevan, dengan penyesuaian untuk memperhitungkan perbedaan biaya hidup dan nilai tukar mata uang.

  • Amerika Serikat (AS): Anggota Kongres AS menerima gaji pokok sekitar USD 174.000 per tahun, atau sekitar Rp 2,7 miliar per tahun (kurs USD 1 = Rp 15.500). Selain gaji pokok, mereka juga menerima berbagai tunjangan dan fasilitas, termasuk tunjangan perjalanan, tunjangan kantor, dan asuransi kesehatan. Namun, tunjangan ini biasanya lebih terkait dengan biaya operasional kantor dan representasi konstituen, bukan tunjangan pribadi seperti tunjangan rumah.

  • Singapura: Anggota parlemen Singapura menerima gaji yang sangat tinggi dibandingkan dengan negara lain. Gaji pokok seorang anggota parlemen diperkirakan sekitar SGD 192.500 per tahun, atau sekitar Rp 2,2 miliar per tahun (kurs SGD 1 = Rp 11.500). Namun, perlu dicatat bahwa Singapura memiliki biaya hidup yang sangat tinggi, terutama di sektor perumahan. Pemerintah Singapura berargumen bahwa gaji tinggi diperlukan untuk menarik talenta terbaik ke dalam politik dan mencegah korupsi.

  • Malaysia: Gaji anggota parlemen Malaysia lebih rendah dibandingkan dengan Singapura. Gaji pokok seorang anggota parlemen diperkirakan sekitar MYR 7.000 per bulan, atau sekitar Rp 24 juta per bulan (kurs MYR 1 = Rp 3.400). Selain gaji pokok, mereka juga menerima berbagai tunjangan, termasuk tunjangan perumahan, tunjangan transportasi, dan tunjangan medis. Namun, besaran tunjangan ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan tunjangan yang diterima oleh anggota DPR RI.

  • Belanda: Anggota parlemen Belanda menerima gaji yang relatif moderat. Gaji pokok seorang anggota parlemen diperkirakan sekitar EUR 8.000 per bulan, atau sekitar Rp 132 juta per bulan (kurs EUR 1 = Rp 16.500). Selain gaji pokok, mereka juga menerima tunjangan transportasi dan tunjangan representasi. Sistem tunjangan di Belanda dirancang untuk menutupi biaya-biaya yang terkait dengan tugas-tugas parlementer, bukan untuk memberikan keuntungan pribadi.

  • Thailand: Gaji anggota parlemen Thailand bervariasi tergantung pada posisi mereka. Anggota parlemen biasa menerima gaji pokok sekitar THB 113.560 per bulan, atau sekitar Rp 50 juta per bulan (kurs THB 1 = Rp 440). Selain gaji pokok, mereka juga menerima berbagai tunjangan, termasuk tunjangan perumahan, tunjangan transportasi, dan tunjangan medis. Namun, besaran tunjangan ini bervariasi dan tergantung pada peraturan yang berlaku.

Analisis Perbandingan

Dari data di atas, terlihat bahwa gaji pokok anggota DPR RI memang relatif kecil dibandingkan dengan gaji pokok anggota parlemen di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura. Namun, jika mempertimbangkan berbagai tunjangan yang diterima, total penghasilan anggota DPR RI bisa jadi lebih besar dari beberapa negara lain, terutama jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Kontroversi tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta per bulan semakin memperbesar disparitas ini.

Selain itu, perlu dicatat bahwa perbandingan gaji dan tunjangan harus dilihat dalam konteks biaya hidup dan tingkat pendapatan rata-rata di masing-masing negara. Jika dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) di Indonesia, yang relatif rendah, disparitas antara gaji anggota DPR dan masyarakat umum menjadi semakin besar. Hal ini dapat memperburuk persepsi publik terhadap DPR dan memperlebar jurang antara wakil rakyat dan rakyat yang mereka wakili.

Kesimpulan

Isu gaji dan tunjangan anggota DPR merupakan masalah kompleks yang melibatkan berbagai faktor, termasuk kinerja, akuntabilitas, dan kondisi ekonomi. Meskipun gaji pokok anggota DPR RI mungkin terlihat kecil dibandingkan dengan negara lain, total penghasilan mereka, terutama setelah penambahan tunjangan rumah, menjadi sorotan utama. Perbandingan dengan negara lain menunjukkan bahwa sistem kompensasi parlemen sangat bervariasi, dan tidak ada standar tunggal yang berlaku secara universal.

Penting bagi DPR untuk mempertimbangkan kembali kebijakan gaji dan tunjangan mereka, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat, kinerja yang diharapkan, dan prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi. Dialog yang terbuka dan jujur dengan publik sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memastikan bahwa wakil rakyat benar-benar mewakili kepentingan rakyat. Jika tidak, isu ini akan terus menjadi sumber kontroversi dan dapat merusak citra lembaga legislatif.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :