Kasus Grace Tanggu, seorang wanita muda di Bali yang didiagnosis gagal ginjal stadium lima sebelum usia 30 tahun, menjadi sorotan. Grace, yang mengaku menjalani gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan, mengalami gejala mual dan muntah yang sudah dirasakannya sejak masa kuliah. Awalnya, ia mengira keluhan tersebut hanyalah penyakit maag biasa. Pengalaman Grace ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap gejala-gejala yang mungkin tampak sepele, namun bisa menjadi indikasi masalah kesehatan yang serius.
"Jadi aku memang sering mual muntah saat kuliah dulu, saat mual muntah dulu itu aku biasanya minum obat (maag) dan cukup membantu lah mual muntahnya bisa berkurang dan bahkan bisa kembali nggak ada lagi," ungkap Grace dalam video yang viral di TikTok. Pengakuan Grace ini menggambarkan bagaimana gejala gagal ginjal yang menyerupai maag seringkali diabaikan atau diobati sendiri dengan obat-obatan pereda maag yang dijual bebas.
Spesialis urologi Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K) dari Siloam Hospitals ASRI menjelaskan bahwa mual dan muntah memang bisa menjadi salah satu tanda awal dari gagal ginjal. "Jadi orang mulai gagal ginjal itu rasanya kadang-kadang mual. Karena apa? Di dalam tubuh ada yang namanya ureum yang harus dibuang oleh ginjal," kata Prof Rasyid. Ureum adalah zat sisa metabolisme protein yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal melalui urine. Ketika fungsi ginjal terganggu, ureum akan menumpuk dalam darah, menyebabkan berbagai gejala, termasuk mual dan muntah.
Prof Rasyid menambahkan bahwa gagal ginjal bukanlah kondisi yang terjadi secara tiba-tiba. "Kalau ginjal udah mulai turun (fungsinya) ureumnya numpuk. Tapi, kalau gagal ginjal itu kan nggak mendadak. Naiknya (ureum) pelan-pelan, baru setelah kadarnya tinggi, baru mual," sambungnya. Proses peningkatan kadar ureum yang bertahap ini seringkali membuat pasien tidak menyadari adanya masalah pada ginjal mereka hingga kondisinya sudah cukup parah.
Dalam fase awal gagal ginjal, banyak pasien yang salah mengartikan gejala mual dan muntah sebagai sakit maag biasa, sehingga mereka hanya mengonsumsi obat maag untuk meredakan keluhan. "Baru kalau obat maag nggak mempan ke dokter. Waktu dia udah mual-mual itu, (fungsi) ginjalnya udah jelek," kata Prof Rasyid. Kondisi ini menekankan pentingnya untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika gejala mual dan muntah tidak membaik setelah mengonsumsi obat maag, atau jika gejala tersebut sering kambuh.
Selain mual dan muntah, ada beberapa gejala lain yang juga perlu diwaspadai sebagai indikasi potensi masalah ginjal. Gejala-gejala tersebut meliputi:
- Perubahan frekuensi dan warna urine: Urine mungkin menjadi lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya, dan warnanya bisa menjadi lebih gelap atau lebih pucat.
- Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah: Hal ini disebabkan oleh penumpukan cairan dalam tubuh akibat ginjal yang tidak berfungsi dengan baik.
- Kelelahan dan kelemahan: Ginjal yang sehat menghasilkan hormon yang disebut eritropoietin, yang merangsang produksi sel darah merah. Ketika fungsi ginjal menurun, produksi eritropoietin juga menurun, menyebabkan anemia dan kelelahan.
- Gatal-gatal: Penumpukan zat-zat sisa metabolisme dalam darah dapat menyebabkan gatal-gatal yang parah.
- Sesak napas: Penumpukan cairan dalam paru-paru dapat menyebabkan sesak napas.
- Nyeri pinggang: Nyeri pinggang yang terus-menerus dapat menjadi tanda adanya masalah pada ginjal.
- Tekanan darah tinggi: Gagal ginjal dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, dan sebaliknya, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak ginjal.
- Hilang nafsu makan: Penumpukan ureum dalam darah dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan.
- Kesulitan tidur: Penumpukan zat-zat sisa metabolisme dalam darah dapat menyebabkan kesulitan tidur.
Prof Rasyid mengatakan bahwa penyakit ginjal saat ini mulai menyerang anak-anak muda. Faktor penyebab yang paling sering ditemui adalah gaya hidup yang kurang baik. "Paling penting hidup sehat. Jangan terlalu banyak (makan atau minum) manis supaya nggak kena gula (diabetes) karena itu sumber utama kerusakan ginjal," kata Prof Rasyid. Diabetes adalah salah satu penyebab utama gagal ginjal. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, menyebabkan penurunan fungsi ginjal.
Selain diabetes, hipertensi atau tekanan darah tinggi juga merupakan faktor risiko utama untuk penyakit ginjal. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah di ginjal, menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Oleh karena itu, penting untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol melalui gaya hidup sehat dan pengobatan jika diperlukan.
Prof Rasyid juga menekankan pentingnya untuk menjalani gaya hidup sehat secara keseluruhan untuk mencegah penyakit ginjal. "Hidup teratur, tidur teratur, olahraga teratur supaya nggak mengalami hipertensi. Minuman keras tentu nggak bagus, minum air putih yang cukup. Habis itu mau nggak mau harus periksa kesehatan secara teratur setahun sekali," tutupnya.
Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga kesehatan ginjal:
- Minum air putih yang cukup: Air membantu ginjal untuk membuang zat-zat sisa metabolisme dari dalam tubuh. Usahakan untuk minum setidaknya 8 gelas air putih setiap hari.
- Batasi konsumsi garam: Konsumsi garam yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, yang dapat merusak ginjal.
- Jaga berat badan ideal: Obesitas dapat meningkatkan risiko diabetes dan hipertensi, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyakit ginjal.
- Berolahraga secara teratur: Olahraga membantu menjaga berat badan ideal, mengontrol tekanan darah, dan meningkatkan kesehatan jantung.
- Hindari merokok: Merokok dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di ginjal.
- Batasi konsumsi alkohol: Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat merusak ginjal.
- Jangan mengonsumsi obat-obatan yang tidak perlu: Beberapa obat-obatan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), dapat merusak ginjal jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dalam dosis tinggi.
- Periksakan kesehatan secara teratur: Pemeriksaan kesehatan secara teratur dapat membantu mendeteksi masalah ginjal sejak dini, sehingga dapat diobati sebelum menjadi lebih parah.
Penting untuk diingat bahwa deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah perkembangan penyakit ginjal menjadi gagal ginjal. Jika Anda mengalami gejala-gejala yang mencurigakan, seperti mual dan muntah yang tidak membaik dengan obat maag, perubahan frekuensi dan warna urine, pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah, kelelahan, gatal-gatal, sesak napas, nyeri pinggang, atau tekanan darah tinggi, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Selain itu, bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit ginjal, seperti diabetes, hipertensi, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, atau berusia di atas 60 tahun, disarankan untuk melakukan pemeriksaan ginjal secara teratur, minimal setahun sekali. Pemeriksaan ginjal dapat meliputi pemeriksaan urine, pemeriksaan darah, dan USG ginjal.
Dengan meningkatkan kesadaran tentang gejala-gejala penyakit ginjal dan pentingnya gaya hidup sehat, kita dapat membantu mencegah penyakit ginjal dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.