Gelombang kemarahan dan kesedihan menyelimuti Indonesia pasca insiden tragis yang menewaskan seorang pengemudi ojek online (ojol) akibat tertabrak kendaraan taktis (rantis) milik kepolisian. Peristiwa yang terjadi di tengah aksi unjuk rasa ini memicu reaksi keras dari berbagai lapisan masyarakat, melampaui batas media sosial dan menjelma menjadi seruan kolektif untuk keadilan dan pertanggungjawaban.
Video amatir yang merekam detik-detik kejadian beredar luas di platform media sosial, menampilkan dengan jelas bagaimana rantis tersebut melaju dan menabrak korban. Kejelasan visual ini menambah pilu dan amarah, memicu tagar-tagar seperti #OjolBerduka, #JusticeForOjol, dan #StopKekerasanAparat menjadi trending topic di berbagai platform.
Pantauan terhadap linimasa X (sebelumnya Twitter) menunjukkan betapa kuatnya emosi publik. Lebih dari 211 ribu cuitan menggunakan tagar #Ojol, diikuti dengan tagar lain yang mencerminkan kesedihan dan kemarahan seperti #YaAllah (95.800 tweet), #Brimob (225 ribu tweet), #Innalillahi (22.800 tweet), #Nyawa (18.200 tweet), dan #DILINDAS (93.400 tweet). Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari duka mendalam dan tuntutan keadilan yang menggema di seluruh negeri.
Reaksi netizen Indonesia sangat beragam, namun memiliki satu benang merah: kekecewaan mendalam terhadap tindakan aparat dan solidaritas terhadap keluarga korban. Ungkapan-ungkapan emosional membanjiri media sosial, mencerminkan rasa sakit dan ketidakberdayaan yang dirasakan banyak orang.
Para influencer dengan jutaan pengikut turut menyuarakan pendapat mereka. Jerome Polin, seorang influencer pendidikan yang dikenal dengan konten positifnya, menulis di Instagram, "Semua mata melihat. Sudah saatnya kita sadar dan melawan. Stop apatis atau kita akan kehilangan semua hak kita. Rakyat sudah makin susah hidupnya, rakyat berhak menuntut keadilan." Kata-kata Jerome, yang biasanya menghindari isu-isu politik, menunjukkan betapa kuatnya dampak insiden ini.
Fitra Eri, seorang influencer otomotif yang dikenal dengan ulasan mobil dan gaya bicara lugasnya, juga mengecam keras tindakan tersebut. "BIADAB! Tahukah Anda kalau kendaraan yang dibeli dengan uang pajak kami itu berbobot sangat berat dan butuh jarak panjang untuk berhenti? Apa esensinya ngebut di tengah kerumunan massa? Toh kendaraan itu juga lapis baja," tulis Fitra di Instagram. Kritiknya yang tajam menyoroti penggunaan kekuatan yang berlebihan dan kurangnya pertimbangan keselamatan publik.
Di luar tokoh publik, reaksi netizen biasa juga tak kalah pedih. Akun @ourp menulis, "Masih nangisin bapak ojol, ya Allah pak tersayat banget hati ini liatnyaa perih bgt periiiihðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜." Sementara @dairymilk mengungkapkan, "Sakit banget hati gua liat ojol dilindes gitu aja sama polisi." Akun @kikiroh*** bahkan lebih emosional, "Marah Bangettt Ya Rabb, lihat OJOL di lindasss." Ungkapan-ungkapan ini hanyalah sebagian kecil dari jutaan suara yang merasakan duka dan kemarahan yang sama.
Insiden ini tidak hanya menjadi tragedi pribadi bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi simbol ketidakadilan dan kekerasan yang meresahkan. Banyak yang merasa bahwa insiden ini adalah puncak dari serangkaian peristiwa serupa yang menunjukkan kurangnya akuntabilitas dan profesionalisme aparat penegak hukum.
GoTo, perusahaan induk dari Gojek, platform ojek online tempat korban bekerja, menyampaikan duka cita dan keprihatinannya. "Kami menyampaikan duka cita yang mendalam dan keprihatinan atas terjadinya insiden di Pejompongan. Doa dan simpati tulus kami sampaikan untuk korban serta keluarga yang terdampak," kata Direktur Public Affairs & Communications GoTo, Ade Mulya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa insiden ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada komunitas yang lebih besar. GoTo diharapkan dapat memberikan dukungan kepada keluarga korban dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi mitra pengemudinya.
Pemerintah, melalui Istana Kepresidenan, juga memberikan tanggapan. Mensesneg Prasetyo Hadi menyatakan, "Kami secara khusus meminta kepada aparat kepolisian untuk tetap sabar dan melakukan tindakan pengamanan dengan penuh kehati-hatian, termasuk kami meminta atensi khusus terhadap kejadian tersebut di atas." Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah menyadari keseriusan masalah ini dan berjanji untuk mengambil tindakan. Namun, banyak yang merasa bahwa pernyataan ini kurang konkret dan tidak memberikan jaminan yang memadai bahwa insiden serupa tidak akan terulang kembali.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri akhirnya menyampaikan permohonan maaf atas nama kepolisian. "Hari ini kami sangat berduka sekali kehilangan saudara kita, yang mana ada kejadian tadi sore, sehingga dengan adanya kejadian tersebut saya atas nama pimpinan Polda Metro dan atas nama kesatuan menyampaikan permohonan maaf yang mendalam dan turut berduka cita sedalam-dalamnya," jelas Irjen Asep di RSCM, Kamis (28/8) malam. Permohonan maaf ini merupakan langkah penting, tetapi banyak yang menuntut lebih dari sekadar permintaan maaf. Mereka menuntut investigasi yang transparan dan akuntabel, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku.
Namun, permohonan maaf dan pernyataan belasungkawa saja tidak cukup untuk meredakan kemarahan publik. Banyak yang menuntut keadilan yang seadil-adilnya bagi korban dan keluarganya. Mereka menuntut agar pelaku bertanggung jawab penuh atas perbuatannya dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Lebih dari itu, mereka menuntut reformasi di tubuh kepolisian agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Insiden ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Indonesia untuk bersatu dan menyuarakan tuntutan mereka. Mereka menuntut pemerintah dan aparat penegak hukum untuk lebih mendengarkan aspirasi rakyat dan bertindak secara profesional dan akuntabel. Mereka menuntut keadilan, keamanan, dan perlindungan bagi seluruh warga negara, tanpa terkecuali.
Tragedi ini juga menyoroti kondisi kerja para pengemudi ojek online yang rentan dan seringkali tidak terlindungi. Mereka bekerja keras untuk mencari nafkah, seringkali dengan risiko yang tinggi. Pemerintah dan perusahaan aplikasi perlu bekerja sama untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan para pengemudi ojek online.
Ke depannya, perlu ada dialog yang konstruktif antara pemerintah, aparat penegak hukum, perusahaan aplikasi, dan perwakilan pengemudi ojek online untuk mencari solusi yang komprehensif dan berkelanjutan. Solusi ini harus mencakup peningkatan pelatihan bagi aparat penegak hukum, peningkatan standar keselamatan bagi pengemudi ojek online, dan mekanisme pengawasan yang efektif untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
Kematian tragis pengemudi ojek online ini tidak boleh sia-sia. Ini harus menjadi panggilan untuk perubahan, untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, aman, dan berkeadilan. Ini adalah saatnya bagi semua pihak untuk bersatu dan bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Emosi rakyat yang memuncak adalah energi yang dapat digunakan untuk mendorong perubahan positif. Yang terpenting adalah memastikan bahwa keadilan ditegakkan dan tragedi serupa tidak akan pernah terjadi lagi. Keadilan untuk ojol, keadilan untuk semua.