Ekonomi Digital Melonjak, Indonesia Berebut Jadi Pusat Data Center ASEAN.

  • Maskobus
  • Aug 29, 2025

Ledakan ekonomi digital di Indonesia, yang diproyeksikan mencapai USD 365 miliar pada tahun 2030, memicu gelombang permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk infrastruktur pusat data. Hal ini mendorong Indonesia untuk berlomba menjadi pusat data regional di Asia Tenggara, bersaing ketat dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Pertarungan ini bukan sekadar persaingan bisnis, melainkan sebuah upaya strategis untuk mengamankan posisi kunci dalam ekosistem digital global.

Pasar pusat data dan komputasi awan (cloud) di kawasan ASEAN diperkirakan akan meledak, mencapai nilai fantastis USD 600 miliar pada tahun 2030. Bahkan, dengan dukungan kebijakan yang tepat dan terarah, potensi ini dapat melampaui angka USD 1 triliun. Indonesia, sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memegang peranan krusial dalam pertumbuhan ini. Nilai bisnis pusat data di Indonesia diperkirakan akan meningkat secara signifikan, dari USD 2,52 miliar pada tahun 2025 menjadi USD 5,82 miliar pada tahun 2030. Angka-angka ini menggarisbawahi peluang besar yang terbentang di depan mata, serta urgensi untuk mempersiapkan diri dalam memanfaatkan momentum ini.

Namun, di balik potensi yang menggiurkan, terdapat tantangan yang signifikan. Kapasitas pusat data Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 500 MW, jauh di bawah potensi ideal yang diperkirakan mencapai 2.700 MW. Kesenjangan ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk meningkatkan investasi dan pengembangan infrastruktur pusat data secara masif. Kondisi ini menjadi sebuah ironi: di satu sisi, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat data regional; di sisi lain, kapasitas yang ada masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Tantangan ini juga merupakan peluang besar, karena membuka ruang bagi inovasi, investasi, dan pengembangan solusi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo), Denny Setiawan, menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik para pemain industri pusat data. Menurutnya, Indonesia perlu menawarkan insentif yang menarik dan menyederhanakan regulasi yang kompleks. Insentif pajak bagi penyedia pusat data dan pelanggan yang mengimpor perangkat ke pusat data dapat meningkatkan daya saing Indonesia secara signifikan, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing di ASEAN. Insentif ini dapat berupa pengurangan pajak penghasilan, pembebasan bea masuk, atau fasilitas percepatan penyusutan aset.

Namun, Denny juga mengingatkan bahwa insentif ini harus diterapkan dengan hati-hati dan disertai dengan kepastian kebijakan jangka panjang. Investor membutuhkan jaminan bahwa insentif yang diberikan tidak akan dicabut atau diubah secara tiba-tiba, sehingga mereka dapat merencanakan investasi mereka dengan percaya diri. Kepastian kebijakan jangka panjang akan menciptakan lingkungan investasi yang stabil dan dapat diprediksi, yang sangat penting untuk menarik investasi asing dan domestik.

Ekonomi Digital Melonjak, Indonesia Berebut Jadi Pusat Data Center ASEAN.

Selain insentif pajak, penyederhanaan proses perizinan juga merupakan faktor kunci dalam meningkatkan daya saing Indonesia. Proses perizinan yang rumit dan memakan waktu dapat menjadi hambatan besar bagi investor, terutama bagi mereka yang baru memasuki pasar Indonesia. Pemerintah perlu menyederhanakan proses perizinan, mengurangi birokrasi, dan memastikan transparansi dalam setiap tahap. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital, seperti sistem perizinan online yang terintegrasi dan mudah digunakan.

Perencanaan strategis dan infrastruktur pendukung juga memegang peranan penting dalam pengembangan pusat data di Indonesia. Pemerintah perlu memiliki rencana induk yang komprehensif untuk pengembangan pusat data, yang mencakup identifikasi lokasi yang strategis, penyediaan infrastruktur pendukung yang memadai, dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Rencana induk ini harus diselaraskan dengan visi dan misi pemerintah dalam mengembangkan ekonomi digital Indonesia.

Denny juga menekankan pentingnya pemerataan pembangunan pusat data di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, sebagian besar pusat data berlokasi di Batam dan Jakarta/Cikarang. Untuk mengurangi kesenjangan digital dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah, pembangunan pusat data baru perlu diarahkan agar tersebar di wilayah Barat, Tengah, dan Timur Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan insentif khusus bagi investor yang bersedia membangun pusat data di daerah-daerah terpencil atau kurang berkembang.

Lokasi ideal untuk pusat data sebaiknya berada dekat dengan titik pendaratan sistem komunikasi kabel laut (SKKL) untuk meminimalisasi latensi data. SKKL merupakan tulang punggung infrastruktur internet global, dan kedekatan dengan titik pendaratannya dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mentransmisikan data antara Indonesia dan negara-negara lain. Hal ini sangat penting untuk aplikasi yang membutuhkan respons cepat, seperti game online, video streaming, dan transaksi keuangan.

Meskipun PLN memiliki kelebihan pasokan listrik, tarif listrik untuk pusat data juga masih tergolong masuk kategori bisnis, bukan industri. Tarif listrik yang tinggi dapat menjadi beban biaya yang signifikan bagi penyedia pusat data, terutama bagi mereka yang beroperasi dalam skala besar. Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk memberikan tarif listrik khusus bagi pusat data, yang lebih kompetitif dibandingkan dengan tarif bisnis biasa. Hal ini dapat membantu mengurangi biaya operasional dan meningkatkan daya saing Indonesia sebagai tujuan investasi pusat data.

Selain itu, penyediaan energi hijau menjadi salah satu faktor penting untuk menarik investasi. Semakin banyak perusahaan yang berkomitmen untuk mengurangi jejak karbon mereka dan menggunakan energi terbarukan. Pemerintah perlu mendorong penggunaan energi terbarukan dalam operasional pusat data, dengan memberikan insentif bagi perusahaan yang menggunakan energi surya, angin, atau sumber energi terbarukan lainnya. Hal ini tidak hanya akan mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga meningkatkan citra Indonesia sebagai negara yang peduli terhadap keberlanjutan.

Untuk mendukung semua upaya ini, diperlukan mekanisme nasional yang terintegrasi untuk pendataan lokasi dan kapasitas pusat data. Data yang akurat dan terkini sangat penting untuk perencanaan strategis dan pengambilan keputusan yang tepat. Pemerintah perlu mengembangkan sistem pendataan yang terpusat dan mudah diakses, yang mencakup informasi tentang lokasi, kapasitas, teknologi, dan penggunaan energi dari setiap pusat data di Indonesia.

"Data yang terintegrasi akan memberikan peta jalan yang lebih terarah untuk pengembangan di masa depan," ucap Denny. Peta jalan ini akan membantu pemerintah dan pelaku industri untuk mengidentifikasi peluang investasi, mengembangkan infrastruktur pendukung yang memadai, dan meningkatkan daya saing Indonesia sebagai pusat data regional. Dengan strategi yang tepat dan implementasi yang efektif, Indonesia dapat memanfaatkan momentum ekonomi digital ini untuk menjadi kekuatan utama dalam industri pusat data di Asia Tenggara. Persaingan ini bukan hanya tentang merebut pangsa pasar, tetapi juga tentang membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :