Gas air mata seringkali menjadi pilihan aparat penegak hukum dalam mengendalikan massa saat terjadi demonstrasi atau kerusuhan. Namun, di balik penggunaannya, terdapat fakta-fakta penting yang perlu dipahami terkait efeknya terhadap kesehatan dan cara memberikan pertolongan pertama yang tepat.
Gas air mata bukanlah gas sejati, melainkan senyawa kimia berbentuk padat yang disebarkan dalam bentuk aerosol atau asap. Senyawa ini bekerja dengan cara mengiritasi selaput lendir pada mata, hidung, mulut, dan paru-paru, menyebabkan rasa sakit, perih, dan kesulitan bernapas.
Komposisi dan Jenis Gas Air Mata
Senyawa kimia yang paling umum digunakan dalam gas air mata adalah CS (2-chlorobenzalmalononitrile). Selain CS, terdapat juga senyawa lain seperti CN (chloroacetophenone), CR (dibenzoxazepine), dan OC (oleoresin capsicum) yang merupakan bahan aktif dalam semprotan merica. Masing-masing senyawa ini memiliki tingkat iritasi yang berbeda, dengan OC cenderung memberikan efek yang lebih kuat dan tahan lama.
Mekanisme Kerja Gas Air Mata
Pakar farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Zullies Ikawati, menjelaskan bahwa gas air mata seperti CS-orto-kloro benzilidin malononitrile bersifat iritan. Senyawa ini bekerja dengan menstimulasi reseptor nyeri dan iritasi pada kulit, mata, dan saluran napas. Gas air mata bereaksi dengan kelembapan pada selaput lendir, menghasilkan asam yang memicu sensasi terbakar dan peradangan.
Efek Gas Air Mata pada Tubuh
Paparan gas air mata dapat menyebabkan berbagai efek pada tubuh, antara lain:
- Mata: Mata terasa perih, berair, merah, dan penglihatan menjadi kabur.
- Hidung: Hidung terasa panas, berair, dan terjadi peningkatan produksi lendir.
- Mulut: Mulut terasa terbakar dan mengeluarkan air liur berlebihan.
- Kulit: Kulit terasa perih, gatal, dan memerah. Pada beberapa kasus, dapat terjadi ruam atau lepuh.
- Sistem Pernapasan: Sesak napas, batuk, mengi, dan rasa tercekik di tenggorokan. Pada kondisi yang parah, dapat terjadi gagal napas.
Efek gas air mata biasanya bersifat sementara dan akan hilang dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah paparan berakhir. Namun, pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu seperti asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), paparan gas air mata dapat memicu serangan yang lebih serius dan memerlukan penanganan medis segera.
Efek Jangka Panjang
Meskipun efek gas air mata umumnya bersifat sementara, paparan berulang atau paparan dengan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan efek jangka panjang, seperti:
- Kerusakan pada saluran pernapasan: Peradangan kronis pada saluran pernapasan dapat meningkatkan risiko infeksi dan memperburuk kondisi asma atau PPOK.
- Masalah penglihatan: Paparan gas air mata yang parah dapat menyebabkan kerusakan pada kornea mata dan mengganggu penglihatan.
- Gangguan psikologis: Pengalaman terpapar gas air mata dapat menyebabkan trauma psikologis, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Pertolongan Pertama Saat Terpapar Gas Air Mata
Ketika terpapar gas air mata, tindakan cepat dan tepat dapat membantu mengurangi efeknya. Berikut adalah langkah-langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan:
-
Menjauh dari Area Terpapar: Segera tinggalkan area yang terpapar gas air mata dan cari tempat dengan udara segar. Beri jarak sejauh mungkin dari sumber gas air mata.
-
Lepaskan Pakaian yang Terkontaminasi: Lepaskan pakaian, perhiasan, atau lensa kontak yang mungkin terpapar gas air mata. Pakaian yang terkontaminasi sebaiknya dimasukkan ke dalam kantong plastik tertutup untuk mencegah penyebaran gas.
-
Irigasi Mata: Cuci mata dengan air bersih yang mengalir selama 10-15 menit. Pastikan untuk membuka mata lebar-lebar saat mencuci. Hindari menggosok mata karena dapat memperparah iritasi. Jangan menggunakan sabun, susu, atau bahan kimia lainnya untuk mencuci mata. Air bersih adalah pilihan terbaik.
-
Bilas Kulit: Bilas kulit yang terpapar dengan air bersih dan sabun lembut. Hindari menggosok kulit terlalu keras. Jika kulit terasa sangat perih, gunakan sampo bayi yang lembut.
-
Bilas Hidung dan Mulut: Berkumurlah dengan air bersih untuk membersihkan mulut dari sisa-sisa gas air mata. Hidung juga bisa dibilas dengan larutan garam (saline) untuk membantu mengeluarkan lendir dan mengurangi iritasi.
-
Bernapas dengan Tenang: Cobalah untuk bernapas dengan tenang dan dalam. Jika memungkinkan, gunakan masker atau kain basah untuk menutupi hidung dan mulut. Hal ini dapat membantu menyaring udara dan mengurangi paparan gas air mata.
-
Jangan Menggaruk: Hindari menggaruk area kulit yang terasa gatal atau perih. Menggaruk dapat memperparah iritasi dan meningkatkan risiko infeksi.
-
Konsultasi Medis: Jika gejala yang dialami parah atau tidak membaik setelah melakukan pertolongan pertama, segera cari bantuan medis. Terutama jika mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada, atau gangguan penglihatan.
Mitos dan Fakta Pertolongan Pertama
Terdapat beberapa mitos yang beredar di masyarakat mengenai cara mengatasi paparan gas air mata. Salah satunya adalah penggunaan pasta gigi. Pakar kimia FMIPA UGM, Dra. Ani Setyopratiwi, M.Si., menjelaskan bahwa pasta gigi tidak efektif untuk menetralkan efek gas air mata.
"Semua pasta gigi khususnya pasta gigi yang baru bisa digunakan karena larutannya masih homogen. Kalau sudah lama dan tercampur air, larutannya cenderung pecah dan berair sehingga emulsinya sudah rusak dan kurang efektif," papar Dra. Ani.
Selain itu, penggunaan cuka juga tidak disarankan karena dapat memperparah iritasi. Air bersih tetap menjadi pilihan terbaik untuk membersihkan mata dan kulit yang terpapar gas air mata.
Pertolongan Lanjutan dan Pengobatan
Dalam beberapa kasus, pertolongan pertama saja tidak cukup untuk mengatasi efek gas air mata. Dokter mungkin akan memberikan pengobatan tambahan, seperti:
- Obat tetes mata: Untuk mengurangi peradangan dan meredakan nyeri pada mata.
- Bronkodilator: Untuk membantu membuka saluran pernapasan dan mengatasi sesak napas.
- Kortikosteroid: Untuk mengurangi peradangan pada saluran pernapasan dan kulit.
- Antihistamin: Untuk meredakan gatal-gatal dan reaksi alergi pada kulit.
Pencegahan
Cara terbaik untuk menghindari efek gas air mata adalah dengan menghindari area yang berpotensi terpapar. Jika terpaksa berada di area tersebut, gunakan perlengkapan pelindung seperti masker gas atau respirator, kacamata pelindung, dan pakaian yang menutupi seluruh tubuh.
Pentingnya Informasi yang Tepat
Memahami fakta-fakta tentang gas air mata, efeknya terhadap kesehatan, dan cara pertolongan pertama yang tepat sangat penting untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Informasi yang akurat dapat membantu mengurangi kepanikan dan memberikan respons yang efektif saat terjadi paparan gas air mata. Selalu mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan berkonsultasi dengan tenaga medis jika diperlukan.
Peran Tenaga Medis
Tenaga medis memiliki peran penting dalam memberikan penanganan yang tepat bagi korban gas air mata. Mereka dapat memberikan pertolongan pertama, melakukan pemeriksaan medis, dan memberikan pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Selain itu, tenaga medis juga dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara pencegahan dan pertolongan pertama saat terpapar gas air mata.
Kesimpulan
Gas air mata adalah senjata pengendalian massa yang dapat menyebabkan berbagai efek kesehatan. Memahami fakta-fakta tentang gas air mata, efeknya, dan cara pertolongan pertamanya adalah kunci untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Dengan tindakan yang cepat dan tepat, efek gas air mata dapat diminimalkan dan risiko komplikasi dapat dicegah. Selalu prioritaskan keselamatan dan kesehatan, dan jangan ragu untuk mencari bantuan medis jika diperlukan.