Ilmuwan Peringatkan Keruntuhan Biosfer, Kiamat Makin Dekat

  • Maskobus
  • Aug 19, 2025

Sebuah studi yang dilakukan baru-baru ini oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research di Jerman dan BOKU University di Wina telah mengungkap wawasan baru yang mengkhawatirkan tentang kesehatan biosfer Bumi, meningkatkan kekhawatiran tentang semakin dekatnya "kiamat" ekologis. Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal One Earth, berfokus pada konsep ‘integritas biosfer fungsional’, yang mengacu pada kemampuan dunia tumbuhan untuk mempertahankan proses-proses vital yang menopang kehidupan di planet ini, termasuk siklus karbon, air, dan nitrogen. Studi tersebut menunjukkan bahwa 60% daratan dunia saat ini berisiko, dengan sebagian besar menghadapi zona berisiko tinggi. Para peneliti menggunakan berbagai metrik kompleks untuk menilai bagaimana dampak manusia terhadap daratan telah memengaruhi biosfer global, menghubungkan efek-efek ini dengan masalah-masalah yang mengancam eksistensi seperti hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim yang semakin cepat.

Studi ini menghadirkan gambaran yang suram tentang kondisi planet kita, menunjukkan bahwa aktivitas manusia telah melampaui batas-batas yang aman untuk kelestarian lingkungan. Temuan ini bukan hanya peringatan dini, tetapi juga seruan mendesak untuk tindakan kolektif dan perubahan mendasar dalam cara kita berinteraksi dengan alam.

"Ada kebutuhan yang sangat besar bagi peradaban untuk memanfaatkan biosfer untuk pangan, bahan baku, dan, di masa depan, juga untuk perlindungan iklim," kata Fabian Stenzel, salah satu penulis utama studi tersebut, seperti dikutip dari The Daily Galaxy. "Oleh karena itu, semakin penting untuk mengukur beban yang telah kita berikan pada biosfer untuk mengidentifikasi kelebihan beban. Penelitian kami sedang membuka jalan untuk hal ini," jelasnya, menyoroti urgensi pemahaman yang lebih baik tentang dampak kita terhadap lingkungan.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar daratan Bumi kini telah melewati ambang batas kritis, tidak lagi berada dalam zona aman yang diperlukan untuk menjaga stabilitas planet. Ini berarti bahwa ekosistem di seluruh dunia berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan kemampuan mereka untuk memberikan layanan penting, seperti penyediaan air bersih dan penyerapan karbon dioksida, terancam secara serius.

Temuan studi ini menunjukkan meningkatnya tekanan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia, terutama di sektor pertanian dan industri, terhadap biosfer. Eksploitasi berlebihan ini tidak hanya mengancam ekosistem alami tetapi juga proses-proses yang mengatur kehidupan di Bumi. Praktik pertanian intensif, deforestasi yang meluas, dan polusi industri telah menyebabkan degradasi tanah, hilangnya keanekaragaman hayati, dan gangguan siklus air, yang semuanya berkontribusi pada kerentanan biosfer.

Ilmuwan Peringatkan Keruntuhan Biosfer, Kiamat Makin Dekat

Peta inovatif dari studi ini menunjukkan gambaran yang gamblang tentang kesehatan planet ini. Hingga saat ini, 60% daratan global telah bergeser ke luar zona aman bagi integritas biosfer. Ini adalah angka yang mengkhawatirkan yang menyoroti skala tantangan yang kita hadapi. Khususnya, 38% daratan dunia kini dianggap berisiko tinggi, dengan wilayah-wilayah di Eropa, Asia, dan Amerika Utara khususnya rentan. Temuan ini juga menyoroti bahwa titik kritis bagi banyak ekosistem telah tercapai jauh sebelum dampak luas perubahan iklim menjadi nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa bahkan tanpa memperhitungkan efek perubahan iklim, aktivitas manusia telah mendorong ekosistem ke ambang batas mereka.

"Kerangka kerja ini kini secara gamblang menempatkan aliran energi dari fotosintesis pada vegetasi dunia di pusat proses-proses yang turut mengatur stabilitas planet," Wolfgang Lucht, koordinator studi tersebut, menguraikan inti permasalahan. Aliran energi vital dari tumbuhan ini, yang menopang kehidupan di Bumi, semakin teralihkan oleh aktivitas manusia, sehingga mengganggu siklus alami biosfer. Gangguan ini merupakan salah satu kontributor utama terhadap risiko yang kini dihadapi ekosistem di seluruh dunia. Ketika kita mengganggu kemampuan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis, kita mengganggu dasar dari seluruh rantai makanan dan keseimbangan ekologis planet.

Studi ini melampaui tren terkini, menawarkan pandangan historis tentang integritas biosfer sejak abad ke-17. Dengan melacak penggunaan lahan dan perubahan iklim sejak awal 1600, para peneliti berhasil mengidentifikasi peningkatan tekanan pada biosfer Bumi sejak industrialisasi. Periode ini ditandai dengan peningkatan pesat dalam konsumsi energi, produksi industri, dan ekspansi pertanian, yang semuanya berdampak signifikan terhadap lingkungan.

Pada 1900-an, hampir 37% lahan sudah berada di luar zona aman, dan 14% berada dalam kondisi berisiko tinggi. Perspektif jangka panjang ini menunjukkan bahwa tantangan yang kita hadapi saat ini bukan semata-mata akibat perubahan iklim modern, melainkan akibat alih fungsi lahan dan eksploitasi sumber daya selama berabad-abad. Ini menekankan perlunya pendekatan holistik untuk mengatasi masalah lingkungan, yang mempertimbangkan faktor-faktor historis dan terkini yang berkontribusi terhadap degradasi biosfer.

Degradasi ekosistem alam yang terus berlanjut, terutama akibat ekspansi industri dan pertanian, telah mendorong planet ini semakin dekat dengan kehancuran ekologis. Jika kita terus mengikuti jalur ini, kita berisiko memicu serangkaian konsekuensi yang tidak dapat diubah, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati secara massal, gangguan siklus air, dan peningkatan frekuensi dan intensitas bencana alam.

Johan Rockström, direktur di Potsdam Institute for Climate Impact Research, menekankan bahwa peta baru ini merupakan terobosan ilmiah yang krusial. Ia mendesak pemerintah-pemerintah dunia untuk mengadopsi pendekatan terpadu terhadap isu-isu lingkungan. Peta ini memberikan alat yang ampuh untuk memahami dan memantau kesehatan biosfer, memungkinkan pembuat kebijakan untuk membuat keputusan yang lebih tepat dan menargetkan upaya konservasi secara efektif.

"Pemerintah harus memperlakukannya sebagai satu isu menyeluruh: perlindungan biosfer yang komprehensif bersama dengan aksi iklim yang kuat," tegasnya. Seruan untuk tindakan segera ini menggarisbawahi semakin diakuinya pentingnya melindungi biosfer Bumi untuk mitigasi perubahan iklim. Melindungi biosfer bukan hanya tentang melestarikan alam, tetapi juga tentang melindungi masa depan umat manusia.

Studi ini menyoroti peran penting penyerap karbon alami dan keanekaragaman hayati dalam mengatur iklim, menekankan perlunya kebijakan internasional yang lebih kuat yang bertujuan untuk memitigasi perubahan iklim sekaligus menjaga kesehatan biosfer. Hutan, lahan basah, dan ekosistem pesisir bertindak sebagai penyerap karbon penting, menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan membantu mengatur iklim global. Melindungi dan memulihkan ekosistem ini sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperlambat laju perubahan iklim.

Kesimpulannya, studi ini menyajikan bukti yang kuat bahwa biosfer Bumi berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat aktivitas manusia. Temuan ini merupakan peringatan keras tentang konsekuensi dari tindakan kita dan seruan mendesak untuk tindakan kolektif. Kita harus segera mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak kita terhadap lingkungan, melindungi dan memulihkan ekosistem alami, dan mengadopsi praktik berkelanjutan yang memungkinkan kita untuk hidup selaras dengan alam. Masa depan planet kita, dan memang masa depan umat manusia, bergantung pada hal itu.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :