Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) telah mengambil langkah proaktif dalam memastikan pemulihan psikologis bagi 91 anak yang diamankan saat aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Senin, 25 Agustus 2025. Anak-anak tersebut, yang seluruhnya berusia di bawah 18 tahun, telah dipulangkan ke keluarga masing-masing setelah melalui proses pendampingan dan konseling yang komprehensif.
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menekankan bahwa prioritas utama adalah memastikan kesejahteraan dan pemulihan psikologis anak-anak yang terlibat dalam situasi tersebut. "Kami menyadari bahwa pengalaman berada di tengah aksi demonstrasi, apalagi sampai diamankan oleh pihak berwajib, dapat menimbulkan trauma dan dampak psikologis yang signifikan bagi anak-anak," ujar Arifah. "Oleh karena itu, kami bergerak cepat untuk memberikan pendampingan yang dibutuhkan agar mereka dapat kembali beradaptasi dengan lingkungan keluarga dan masyarakat dengan baik."
Pendampingan Awal dan Psikoedukasi
Setelah diamankan, anak-anak tersebut langsung mendapatkan pendampingan dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) PPPA DKI Jakarta serta Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta. Tim pendamping terdiri dari psikolog, pekerja sosial, dan paralegal yang terlatih dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan anak-anak.
"Pendampingan awal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dengan anak-anak dan menggali informasi mengenai latar belakang mereka, alasan mereka mengikuti demonstrasi, serta pengalaman yang mereka alami selama aksi tersebut," jelas Arifah. "Kami juga memberikan psikoedukasi untuk membantu mereka memahami situasi yang mereka hadapi dan mengembangkan strategi koping yang sehat."
Psikoedukasi yang diberikan mencakup berbagai topik, antara lain:
- Cara menyampaikan aspirasi dengan benar: Anak-anak diajarkan tentang berbagai cara untuk menyampaikan pendapat dan berpartisipasi dalam proses demokrasi, tanpa harus terlibat dalam tindakan yang melanggar hukum atau membahayakan diri sendiri.
- Memahami penyebab dan dampak stres: Anak-anak diberikan informasi tentang apa itu stres, bagaimana stres dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental, serta cara-cara untuk mengelola stres dengan efektif.
- Mengenalkan layanan pemulihan yang dapat diakses: Anak-anak diinformasikan tentang berbagai layanan yang tersedia untuk membantu mereka mengatasi masalah psikologis, seperti konseling, terapi, dan dukungan sosial. Layanan-layanan ini dapat diakses melalui dinas PPPA, puskesmas, atau lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan anak.
Konseling dan Pemulihan Lanjutan
Setelah pendampingan awal, anak-anak mengikuti program konseling dan pemulihan yang lebih intensif yang difasilitasi oleh Dinas PPAPP DKI Jakarta. Program ini melibatkan delapan kelompok konseling yang masing-masing terdiri dari konselor, pekerja sosial, dan paralegal.
"Konseling ini bertujuan untuk membantu anak-anak memproses pengalaman traumatis yang mereka alami, mengatasi perasaan negatif seperti marah, sedih, atau takut, serta membangun kembali rasa percaya diri dan harga diri mereka," terang Arifah. "Kami juga memberikan dukungan kepada keluarga anak-anak untuk membantu mereka memahami kebutuhan anak-anak dan menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi pemulihan mereka."
Proses konseling dan pemulihan mencakup berbagai teknik dan pendekatan, antara lain:
- Terapi bermain: Terapi ini menggunakan permainan sebagai media untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi dan pikiran mereka yang sulit diungkapkan secara verbal.
- Terapi seni: Terapi ini menggunakan seni seperti menggambar, melukis, atau membuat kerajinan tangan untuk membantu anak-anak mengekspresikan diri dan mengatasi trauma.
- Terapi kognitif perilaku: Terapi ini membantu anak-anak mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku negatif yang berkontribusi pada masalah psikologis mereka.
- Dukungan kelompok: Anak-anak diberikan kesempatan untuk bertemu dan berbagi pengalaman dengan anak-anak lain yang mengalami situasi serupa. Dukungan kelompok ini dapat membantu anak-anak merasa tidak sendirian dan mendapatkan dukungan dari teman sebaya.
Identifikasi dan Pemulangan Anak
Berdasarkan data Dinas PPAPP DKI Jakarta, dari 91 anak yang diamankan, 47 di antaranya berasal dari DKI Jakarta, 19 dari luar DKI Jakarta, dan 25 lainnya masih belum teridentifikasi pada saat awal pendataan. Anak-anak tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari Bogor, Tangerang, dan Bekasi.
"Kami bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian, dinas sosial, dan pemerintah daerah, untuk mengidentifikasi dan memulangkan anak-anak ke keluarga masing-masing," kata Arifah. "Proses identifikasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa anak-anak dikembalikan kepada orang tua atau wali yang sah dan bahwa mereka mendapatkan dukungan yang dibutuhkan di lingkungan keluarga."
Dalam proses pemulangan, KemenPPPA dan Dinas PPAPP DKI Jakarta memberikan informasi dan edukasi kepada keluarga anak-anak mengenai pentingnya dukungan psikologis dan cara-cara untuk menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi pemulihan anak-anak.
Peran Aktif Masyarakat dan Keluarga
Arifah menekankan bahwa pemulihan psikologis anak-anak yang terlibat dalam demonstrasi membutuhkan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, dan komunitas.
"Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan dukungan emosional, menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, serta memantau perkembangan anak-anak," ujar Arifah. "Sekolah juga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan akademik dan sosial, serta mengidentifikasi anak-anak yang mungkin membutuhkan bantuan tambahan."
Selain itu, Arifah mengajak seluruh masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah anak, di mana anak-anak merasa aman, dihargai, dan didukung untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal.
Pencegahan dan Edukasi
KemenPPPA juga berkomitmen untuk meningkatkan upaya pencegahan dan edukasi untuk mencegah anak-anak terlibat dalam kegiatan yang berisiko, seperti demonstrasi yang dapat membahayakan keselamatan dan kesejahteraan mereka.
"Kami akan terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hak-hak anak dan pentingnya melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, dan penelantaran," kata Arifah. "Kami juga akan meningkatkan program-program edukasi untuk anak-anak mengenai cara-cara menyampaikan aspirasi secara damai dan bertanggung jawab."
KemenPPPA mengimbau kepada para orang tua dan wali untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka dan memastikan bahwa mereka tidak terlibat dalam kegiatan yang dapat membahayakan diri mereka sendiri atau orang lain.
Komitmen Pemerintah
Pemerintah Indonesia berkomitmen penuh untuk melindungi hak-hak anak dan memastikan kesejahteraan mereka. KemenPPPA akan terus bekerja keras untuk mewujudkan Indonesia yang ramah anak, di mana setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
"Kami menyadari bahwa tantangan yang kita hadapi dalam melindungi anak-anak sangat kompleks dan beragam," kata Arifah. "Namun, dengan kerja sama dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, kami yakin bahwa kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia."
KemenPPPA juga membuka diri untuk menerima masukan dan saran dari masyarakat mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perlindungan anak di Indonesia. Masyarakat dapat menghubungi KemenPPPA melalui berbagai saluran komunikasi yang tersedia, seperti website, media sosial, atau hotline pengaduan.
Dengan upaya yang komprehensif dan berkelanjutan, KemenPPPA berharap dapat memastikan bahwa anak-anak yang terlibat dalam demonstrasi dapat pulih sepenuhnya dari pengalaman traumatis yang mereka alami dan kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara. Pemulihan psikologis anak-anak adalah investasi penting untuk masa depan Indonesia.