Les ultras de Lorient taclent la LFP avant le derby contre Rennes.

  • Maskobus
  • Aug 24, 2025

Derby Bretagne antara Lorient dan Rennes, yang dijadwalkan pada hari Minggu pukul 15:00 untuk pekan ke-2 Ligue 1, akan digelar di hadapan kurang dari 12.000 penonton. Penyebabnya? Tribune Selatan Stade du Moustoir ditutup sebagai hukuman atas invasi lapangan saat pertandingan promosi melawan Caen pada 26 April lalu. Keputusan ini memicu kemarahan kelompok suporter ultras Lorient, yang membentangkan spanduk protes sebelum pertandingan dimulai. "Tidak untuk sanksi kolektif. Derby dirusak oleh tribun yang ditutup: terima kasih LFP," bunyi pesan yang tertulis di spanduk tersebut.

Analisis Mendalam dan Konteks Tambahan:

Insiden ini menyoroti ketegangan yang sedang berlangsung antara kelompok suporter sepak bola, khususnya ultras, dan badan pengatur sepak bola, dalam hal ini Ligue de Football Professionnel (LFP). Sanksi kolektif, seperti penutupan tribun, seringkali menjadi sumber kontroversi karena menghukum semua penggemar, termasuk mereka yang tidak terlibat dalam pelanggaran apa pun.

Latar Belakang: Invasi Lapangan dan Konsekuensinya

Invasi lapangan selama pertandingan promosi melawan Caen merupakan momen euforia bagi para penggemar Lorient, yang merayakan kembalinya tim mereka ke Ligue 1. Namun, tindakan tersebut melanggar peraturan keamanan dan mengakibatkan sanksi dari LFP. Meskipun invasi lapangan seringkali dianggap sebagai ekspresi kegembiraan dan semangat, badan pengatur sepak bola memandang mereka sebagai risiko keamanan yang berpotensi membahayakan pemain, staf, dan penggemar lainnya.

Les ultras de Lorient taclent la LFP avant le derby contre Rennes.

Argumen Ultras Lorient:

Kelompok ultras Lorient berpendapat bahwa sanksi kolektif tidak adil dan tidak efektif. Mereka berpendapat bahwa menghukum semua penggemar karena tindakan segelintir orang tidak adil dan bahwa sanksi tersebut tidak mencegah perilaku buruk di masa depan. Sebaliknya, mereka mengklaim bahwa sanksi kolektif justru mengasingkan penggemar dan merusak atmosfer pertandingan. Ultras Lorient percaya bahwa LFP harus fokus pada identifikasi dan hukuman individu yang bertanggung jawab atas pelanggaran, bukan menghukum seluruh kelompok penggemar.

Posisi LFP:

LFP membela sanksi kolektif sebagai alat yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban di stadion. Mereka berpendapat bahwa penutupan tribun mengirimkan pesan yang kuat bahwa perilaku buruk tidak akan ditoleransi dan bahwa penggemar bertanggung jawab untuk mengendalikan tindakan mereka. LFP juga berpendapat bahwa sanksi kolektif memberikan insentif bagi kelompok penggemar untuk memantau anggotanya dan mencegah perilaku yang dapat mengakibatkan hukuman.

Dampak pada Derby Bretagne:

Penutupan Tribune Selatan Stade du Moustoir secara signifikan mengurangi kapasitas stadion untuk derby melawan Rennes. Ini tidak hanya mengecewakan para penggemar yang tidak dapat menghadiri pertandingan, tetapi juga merusak atmosfer dan potensi pendapatan klub. Derby Bretagne adalah salah satu pertandingan yang paling dinantikan dalam kalender sepak bola Prancis, dan penutupan tribun mengurangi pengalaman bagi semua orang yang terlibat.

Implikasi yang Lebih Luas:

Perselisihan antara ultras Lorient dan LFP mencerminkan masalah yang lebih luas tentang hubungan antara penggemar sepak bola dan badan pengatur sepak bola. Di seluruh Eropa, kelompok ultras semakin vokal dalam mengkritik kebijakan yang mereka yakini merusak budaya dan atmosfer sepak bola. Mulai dari harga tiket yang tinggi hingga pembatasan penggunaan spanduk dan bendera, ultras merasa bahwa mereka semakin terpinggirkan dari permainan.

Masa Depan Hubungan Ultras-LFP:

Masa depan hubungan antara ultras dan LFP tidak pasti. Ultras kemungkinan akan terus menentang kebijakan yang mereka yakini tidak adil atau tidak efektif, sementara LFP kemungkinan akan terus memprioritaskan keamanan dan ketertiban di stadion. Dialog dan kompromi akan sangat penting untuk menemukan solusi yang memenuhi kebutuhan semua pihak yang terlibat. Mungkin ada ruang untuk pendekatan yang lebih bernuansa, seperti sanksi yang ditargetkan pada individu atau kelompok yang bertanggung jawab atas pelanggaran, sambil bekerja sama dengan kelompok penggemar untuk meningkatkan pengawasan dan pencegahan.

Perspektif Tambahan:

  • Keamanan vs. Atmosfer: Perselisihan antara ultras dan LFP menyoroti keseimbangan yang sulit antara memastikan keamanan dan menciptakan atmosfer yang hidup di stadion. Sementara keamanan harus menjadi prioritas utama, penting juga untuk menghargai peran yang dimainkan penggemar dalam menciptakan pengalaman sepak bola yang unik dan mengesankan.
  • Tanggung Jawab Kolektif vs. Individu: Perdebatan tentang sanksi kolektif dan individu menyentuh pertanyaan yang lebih luas tentang tanggung jawab dan akuntabilitas. Apakah adil menghukum seluruh kelompok karena tindakan segelintir orang? Atau haruskah fokusnya hanya pada identifikasi dan hukuman pelaku individu?
  • Peran Ultras dalam Sepak Bola: Ultras sering dianggap sebagai salah satu penggemar sepak bola yang paling berdedikasi dan bersemangat. Mereka memainkan peran penting dalam menciptakan atmosfer di stadion dan mendukung tim mereka tanpa syarat. Namun, tindakan mereka juga dapat menimbulkan kontroversi dan konflik dengan badan pengatur sepak bola.

Kesimpulan:

Perselisihan antara ultras Lorient dan LFP adalah contoh dari ketegangan yang sedang berlangsung antara penggemar sepak bola dan badan pengatur sepak bola. Penutupan Tribune Selatan Stade du Moustoir untuk derby melawan Rennes menyoroti dampak sanksi kolektif pada penggemar, klub, dan atmosfer pertandingan. Saat sepak bola terus berkembang, penting untuk menemukan cara untuk menyeimbangkan kebutuhan keamanan dan ketertiban dengan hak dan harapan penggemar. Dialog, kompromi, dan pemahaman yang lebih dalam tentang perspektif yang berbeda akan sangat penting untuk membangun hubungan yang lebih konstruktif antara ultras dan badan pengatur sepak bola di masa depan. Insiden ini bukan hanya masalah lokal bagi Lorient dan Rennes, tetapi juga mencerminkan tren yang lebih luas dalam sepak bola Eropa dan dunia. Bagaimana LFP dan badan pengatur sepak bola lainnya menanggapi kekhawatiran ultras akan memiliki implikasi yang signifikan bagi masa depan budaya sepak bola dan keterlibatan penggemar.

Selain itu, penting untuk mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi dari sanksi tersebut. Penutupan tribun tidak hanya merugikan penggemar yang tidak dapat menghadiri pertandingan, tetapi juga bisnis lokal yang bergantung pada keramaian yang dihasilkan oleh pertandingan sepak bola. Ini juga mengirimkan pesan negatif kepada komunitas tentang kemampuan klub dan badan pengatur sepak bola untuk mengelola keamanan dan ketertiban.

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih holistik terhadap manajemen penggemar diperlukan, yang melibatkan kerja sama antara klub, badan pengatur sepak bola, polisi, dan kelompok penggemar. Ini dapat mencakup langkah-langkah seperti meningkatkan pengawasan di stadion, meningkatkan komunikasi dengan kelompok penggemar, dan menerapkan program pendidikan untuk mempromosikan perilaku yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, tujuan haruslah menciptakan lingkungan di mana semua penggemar dapat menikmati pertandingan sepak bola dengan aman dan nyaman, sambil melestarikan budaya dan atmosfer yang membuat sepak bola menjadi olahraga yang unik dan mengasyikkan. Ini membutuhkan kemauan untuk mendengarkan dan belajar dari semua pihak yang terlibat, dan untuk menemukan solusi yang memenuhi kebutuhan semua orang.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :