Monyet di Ubud Masturbasi Pakai Batu Bikin Ilmuwan Penasaran.

  • Maskobus
  • Aug 26, 2025

Perilaku unik dan mengejutkan diperlihatkan oleh populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Ubud, Bali, Indonesia, telah menarik perhatian para ilmuwan dan memicu rasa ingin tahu mendalam. Monyet-monyet ini terekam kamera melakukan aktivitas yang tidak biasa, yaitu menggunakan batu sebagai alat bantu untuk masturbasi. Fenomena ini membuka jendela baru ke dalam kompleksitas perilaku hewan, khususnya primata, dan mendorong para peneliti untuk menggali lebih dalam mengenai motivasi, fungsi, dan implikasi evolusioner dari perilaku ini.

Studi mengenai perilaku aneh ini dipublikasikan pada 4 Agustus 2022 di jurnal Ethology, sebuah publikasi ilmiah terkemuka yang berfokus pada studi perilaku hewan. Temuan ini memberikan bukti lebih lanjut terkait hipotesis mainan seks yang diajukan oleh peneliti yang sama dalam studi sebelumnya, yang menggambarkan aktivitas tersebut sebagai bentuk masturbasi pada hewan dengan bantuan alat. Hipotesis ini menyatakan bahwa penggunaan batu dalam konteks ini bukanlah sekadar permainan atau eksplorasi lingkungan, melainkan memiliki tujuan yang lebih spesifik, yaitu untuk merangsang diri secara seksual.

Tim peneliti menemukan bahwa monyet jantan dan betina dari berbagai kelompok usia menggunakan batu untuk bermain, tetapi terdapat beberapa variasi di antara kelompok-kelompok tersebut. Monyet betina lebih pemilih dalam memilih batu yang mereka gunakan, sementara monyet jantan muda paling banyak terlibat. Para peneliti yang mengamati monyet-monyet tersebut biasanya tidak perlu menunggu lama untuk mengamati perilaku tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku ini cukup umum dan mudah diamati dalam populasi monyet tersebut.

"Anda akan melihat mereka menggunakan batu ini untuk digosok-gosokkan secara teratur," ujar penulis utama Camilla Cenni, kandidat doktor di Lethbridge University di Alberta, Kanada. "Mereka memang tidak melakukannya terus-menerus, tetapi jika Anda berhenti dan melihat mereka mulai bermain-main dengan batu, kemungkinan besar mereka akan melakukannya." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa perilaku ini bukan hanya kejadian sesekali, melainkan merupakan bagian dari perilaku sehari-hari monyet-monyet tersebut.

Cenni menyebutkan, beberapa populasi kera secara teratur memanipulasi batu sebagai bagian dari perilaku mereka, seolah-olah sebagai bentuk permainan. Mereka membawa batu, menggosokkannya ke permukaan, dan membenturkannya. Manipulasi batu ini kemungkinan merupakan budaya, karena hanya terlihat pada populasi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku ini tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya dalam kelompok monyet tersebut.

Monyet di Ubud Masturbasi Pakai Batu Bikin Ilmuwan Penasaran.

‘Masturbasi dengan bantuan alat’ yang dijelaskan dalam studi ini kemungkinan besar berasal dari penggunaan batu yang lebih luas. Namun, praktik ini hanya didokumentasikan pada satu populasi monyet di Bali. Fakta ini membuat fenomena ini semakin menarik dan mendorong para peneliti untuk mencari tahu mengapa perilaku ini hanya muncul pada populasi tertentu.

"Ketika kita berbicara tentang penggunaan alat pada hewan, kita biasanya berpikir tentang kejadian-kejadian yang bergantung pada kelangsungan hidup," kata Cenni. Pernyataan ini menyoroti bahwa penggunaan alat pada hewan seringkali dikaitkan dengan kebutuhan dasar seperti mencari makan atau melindungi diri dari predator.

Misalnya, simpanse (Pan troglodytes) menggunakan batu untuk memecahkan kacang agar bisa dimakan. "Semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa menggunakan benda sebagai alat tidak harus menjadi masalah kelangsungan hidup. Ini jelas sebuah contoh," jelasnya. Penelitian ini menantang pandangan tradisional mengenai penggunaan alat pada hewan dan membuka kemungkinan bahwa alat juga dapat digunakan untuk tujuan lain, seperti kesenangan atau kepuasan diri.

Penelitian ini didasarkan pada studi yang dipimpin oleh Cenni dan diterbitkan dalam jurnal Physiology & Behavior pada 2020. Studi ini pertama kali mengajukan hipotesis mainan seks pada monyet jantan, sementara penelitian baru mengamati monyet jantan dan betina serta potensi motivasi mereka. Studi sebelumnya memberikan dasar bagi penelitian ini dan membantu para peneliti untuk mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perilaku ini.

Monyet jantan muda menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas ini dibandingkan monyet jantan dewasa. Faktanya, monyet jantan dewasa cenderung tidak terlalu tertarik dengan masturbasi menggunakan batu, mungkin karena mereka memiliki ‘akses’ ke monyet betina dewasa. Namun, terdapat banyak variasi penggunaan batu di antara masing-masing monyet, baik jantan maupun betina. Hal ini menunjukkan bahwa faktor usia dan status sosial dapat mempengaruhi perilaku ini.

"Dalam kelompok-kelompok tersebut, terdapat monyet yang melakukannya jauh lebih sering daripada yang lain," kata Cenni. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa terdapat perbedaan individu dalam perilaku ini, yang mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti kepribadian, pengalaman, atau preferensi individu.

Monyet-monyet tersebut adalah monyet perkotaan yang tinggal di dalam dan sekitar Suaka Hutan Monyet Suci di Ubud, Bali. Mereka hidup bebas dan diberi makan oleh manusia. Lokasi geografis dan interaksi dengan manusia dapat memainkan peran penting dalam perkembangan perilaku ini.

Para peneliti berpendapat bahwa pemberian makan dapat mengurangi tekanan pada monyet untuk mencari makan, sehingga mereka lebih banyak terlibat dalam perilaku yang memanfaatkan batu. Dengan kata lain, mereka memiliki lebih banyak waktu luang daripada monyet lain, dan emilih untuk menghabiskannya bersama batu. Hipotesis ini menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya dan waktu luang dapat mempengaruhi perilaku hewan, termasuk perilaku seksual.

Penelitian ini memiliki implikasi yang signifikan bagi pemahaman kita tentang perilaku hewan, khususnya primata. Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa hewan dapat menggunakan alat untuk tujuan yang lebih kompleks daripada sekadar kelangsungan hidup. Kedua, penelitian ini menyoroti pentingnya faktor sosial dan budaya dalam membentuk perilaku hewan. Ketiga, penelitian ini membuka pertanyaan baru mengenai motivasi, fungsi, dan implikasi evolusioner dari masturbasi pada hewan.

Lebih lanjut, penelitian ini juga dapat memberikan wawasan tentang evolusi perilaku seksual pada manusia. Meskipun terdapat perbedaan yang signifikan antara manusia dan monyet, kedua spesies ini memiliki nenek moyang yang sama dan berbagi banyak kesamaan dalam perilaku sosial dan seksual. Dengan mempelajari perilaku seksual pada monyet, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang asal-usul dan perkembangan perilaku seksual pada manusia.

Selain itu, penelitian ini juga dapat memiliki implikasi praktis bagi pengelolaan populasi monyet. Dengan memahami perilaku monyet, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengurangi konflik antara manusia dan monyet, serta untuk melindungi populasi monyet dari ancaman kepunahan.

Namun, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini masih bersifat awal dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi temuan-temuan ini dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Penelitian di masa depan dapat berfokus pada identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ini, seperti hormon, gen, dan pengalaman sosial. Penelitian juga dapat dilakukan untuk membandingkan perilaku ini dengan perilaku monyet di populasi lain, serta dengan perilaku primata lainnya.

Secara keseluruhan, penelitian tentang monyet di Ubud yang masturbasi menggunakan batu merupakan studi yang menarik dan inovatif yang memberikan wawasan baru tentang kompleksitas perilaku hewan. Penelitian ini menantang pandangan tradisional mengenai penggunaan alat pada hewan dan membuka kemungkinan bahwa alat juga dapat digunakan untuk tujuan lain, seperti kesenangan atau kepuasan diri. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya faktor sosial dan budaya dalam membentuk perilaku hewan, serta membuka pertanyaan baru mengenai motivasi, fungsi, dan implikasi evolusioner dari masturbasi pada hewan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan-temuan ini dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, tetapi penelitian ini menjanjikan untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi pemahaman kita tentang perilaku hewan, khususnya primata, dan evolusi perilaku seksual pada manusia. Studi ini juga mengingatkan kita bahwa dunia hewan penuh dengan kejutan dan kompleksitas yang menunggu untuk diungkap.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :