Ini bukan hanya tentang mengganti pelatih atau memenangkan satu turnamen, tetapi tentang membangun fondasi yang kuat agar prestasi bisa berkelanjutan. Selama ini, masalah di sepak bola Indonesia seringkali hanya dilihat dari satu sisi. Misalnya, ketika tim nasional kalah, fokus perbaikan hanya pada kualitas pemain atau pelatih. Padahal, kekalahan tersebut bisa jadi akibat dari masalah di hulu, seperti manajemen yang tidak profesional, kompetisi yang tidak sehat, atau pembinaan usia dini yang terbengkalai. "Pembenahan sepakbola secara holistic, karena agak sulit saya melihat sepakbola berkembang secara terpisah, youth development saja, liga saja atau timnas saja," Arif Putra Wicaksono mengakhiri pembicaraan.
Wacana naturalisasi pemain sepak bola kembali menghangat di Indonesia, memicu perdebatan sengit di kalangan pecinta sepak bola dan para pengamat. Di satu sisi, naturalisasi dipandang sebagai jalan pintas untuk meningkatkan kualitas tim nasional secara instan, memberikan suntikan kekuatan dengan pemain-pemain berdarah Indonesia yang merumput di liga-liga Eropa. Di sisi lain, kebijakan ini dikritik karena dianggap mengabaikan pembinaan pemain muda lokal dan tidak menyelesaikan akar masalah yang menghambat perkembangan sepak bola Indonesia secara berkelanjutan.
Arif Putra Wicaksono, seorang pengamat sepak bola ternama, kembali mengingatkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) tentang pentingnya pembinaan usia dini dan pembenahan sistem sepak bola secara menyeluruh, alih-alih hanya mengandalkan naturalisasi pemain. Menurutnya, naturalisasi memang bisa memberikan dampak positif jangka pendek, tetapi tidak akan menyelesaikan masalah mendasar yang menghantui sepak bola Indonesia selama bertahun-tahun.
"Naturalisasi itu seperti memberi obat pereda nyeri. Sakitnya hilang sementara, tapi akar masalahnya tetap ada," ujar Arif dalam sebuah wawancara. "Kita memang bisa mendatangkan pemain-pemain berkualitas dari luar, tapi kalau sistem pembinaan kita tidak dibenahi, kita akan terus bergantung pada naturalisasi dan tidak akan pernah bisa menghasilkan pemain-pemain hebat dari dalam negeri."
Arif menyoroti beberapa masalah krusial yang perlu segera ditangani oleh PSSI, antara lain:
1. Pembinaan Usia Dini yang Tidak Terarah:
Pembinaan usia dini merupakan fondasi utama dalam membangun sepak bola yang kuat dan berkelanjutan. Namun, di Indonesia, pembinaan usia dini masih jauh dari ideal. Banyak sekolah sepak bola (SSB) yang kekurangan fasilitas, pelatih yang berkualitas, dan kurikulum yang terstandarisasi. Akibatnya, potensi pemain-pemain muda Indonesia tidak bisa berkembang secara maksimal.
"Kita punya banyak talenta muda yang potensial, tapi sayang sekali mereka tidak mendapatkan pembinaan yang tepat," kata Arif. "Banyak SSB yang hanya fokus pada kemenangan di turnamen-turnamen lokal, tanpa memperhatikan pengembangan teknik, taktik, dan mental pemain."
Arif menekankan pentingnya PSSI untuk membuat kurikulum pembinaan usia dini yang terstandarisasi, melatih pelatih-pelatih SSB secara profesional, dan memberikan dukungan finansial kepada SSB-SSB yang berprestasi. Selain itu, PSSI juga perlu membuat kompetisi usia dini yang terstruktur dan berkelanjutan, sehingga pemain-pemain muda memiliki wadah untuk mengasah kemampuan mereka.
2. Kompetisi Liga yang Tidak Sehat:
Liga sepak bola Indonesia, baik Liga 1 maupun Liga 2, masih diwarnai oleh berbagai masalah, seperti pengaturan skor, kekerasan antar suporter, dan kualitas wasit yang buruk. Masalah-masalah ini membuat kompetisi menjadi tidak sehat dan menghambat perkembangan pemain-pemain lokal.
"Liga kita masih jauh dari profesional," ujar Arif. "Banyak klub yang tidak dikelola dengan baik, pemain-pemain yang tidak dibayar tepat waktu, dan wasit-wasit yang tidak adil. Ini semua membuat pemain-pemain kita sulit berkembang dan tidak bisa bersaing di level internasional."
Arif mendesak PSSI untuk memberantas praktik-praktik kotor di liga, meningkatkan kualitas wasit, dan menerapkan standar profesional yang ketat bagi semua klub. Selain itu, PSSI juga perlu meningkatkan kualitas infrastruktur stadion dan fasilitas latihan, sehingga pemain-pemain memiliki lingkungan yang kondusif untuk berlatih dan bertanding.
3. Manajemen PSSI yang Tidak Profesional:
Manajemen PSSI seringkali dikritik karena tidak transparan, tidak akuntabel, dan tidak profesional. Keputusan-keputusan yang diambil oleh PSSI seringkali kontroversial dan tidak berpihak pada kepentingan sepak bola Indonesia. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap PSSI sangat rendah.
"PSSI harus berbenah diri," kata Arif. "Mereka harus lebih transparan dalam mengelola keuangan, lebih akuntabel dalam mengambil keputusan, dan lebih profesional dalam menjalankan organisasi. Kalau PSSI tidak berubah, sepak bola kita akan sulit maju."
Arif menyarankan agar PSSI melibatkan lebih banyak profesional di bidang sepak bola dalam manajemen organisasi. Selain itu, PSSI juga perlu meningkatkan komunikasi dengan publik dan mendengarkan masukan dari para stakeholder sepak bola Indonesia.
4. Mentalitas Pemain yang Belum Matang:
Mentalitas pemain juga menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan sepak bola Indonesia. Banyak pemain Indonesia yang mudah menyerah, kurang percaya diri, dan tidak memiliki semangat juang yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pendidikan karakter, tekanan yang berlebihan dari media dan suporter, dan kurangnya pengalaman bermain di level internasional.
"Mentalitas pemain itu sangat penting," ujar Arif. "Kalau pemain tidak memiliki mental yang kuat, mereka akan sulit bersaing dengan pemain-pemain dari negara lain. Kita perlu melatih mental pemain sejak usia dini, sehingga mereka memiliki kepercayaan diri, semangat juang, dan kemampuan untuk mengatasi tekanan."
Arif menyarankan agar PSSI bekerja sama dengan psikolog olahraga untuk memberikan pelatihan mental kepada para pemain tim nasional dan pemain-pemain muda. Selain itu, PSSI juga perlu memberikan kesempatan kepada pemain-pemain muda untuk bermain di level internasional, sehingga mereka mendapatkan pengalaman berharga dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Naturalisasi Sebagai Solusi Sementara:
Arif mengakui bahwa naturalisasi bisa menjadi solusi sementara untuk meningkatkan kualitas tim nasional. Namun, ia menekankan bahwa naturalisasi tidak boleh menjadi satu-satunya fokus PSSI. PSSI harus tetap berinvestasi dalam pembinaan usia dini, membenahi sistem kompetisi, dan meningkatkan kualitas manajemen organisasi.
"Naturalisasi itu boleh saja, tapi jangan sampai kita lupa dengan akar masalah kita," kata Arif. "Kita harus tetap fokus pada pembinaan pemain muda, membenahi liga, dan meningkatkan profesionalisme PSSI. Kalau kita bisa melakukan itu, saya yakin sepak bola Indonesia akan bisa bersaing di level internasional."
Arif berharap agar PSSI mendengarkan masukan dari para pengamat sepak bola dan mengambil langkah-langkah konkret untuk membenahi sepak bola Indonesia secara menyeluruh. Ia yakin bahwa dengan kerja keras dan komitmen yang kuat, sepak bola Indonesia bisa meraih prestasi yang membanggakan di masa depan.
Sebagai penutup, Arif kembali menegaskan, "Pembenahan sepakbola secara holistic, karena agak sulit saya melihat sepakbola berkembang secara terpisah, youth development saja, liga saja atau timnas saja." Artinya, semua aspek sepak bola harus dibenahi secara bersamaan dan terintegrasi, mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi liga, manajemen organisasi, hingga mentalitas pemain. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif, sepak bola Indonesia bisa mencapai potensi maksimalnya dan bersaing di level dunia.