Ojol Affan Kurniawan Tewas Dilindas, #IndonesiaGelap Bergema

  • Maskobus
  • Aug 29, 2025

Gelombang duka dan amarah melanda masyarakat Indonesia menyusul tragedi tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang dilaporkan tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob. Peristiwa pilu ini memicu kembali bergema tagar #IndonesiaGelap di platform media sosial X (dulu Twitter), menjadi wadah ekspresi kekecewaan dan keprihatinan mendalam terhadap kondisi sosial dan hukum di tanah air. Hingga Jumat, 29 Agustus 2025, pukul 10.46 WIB, tagar tersebut telah dicuitkan lebih dari 34.400 kali, menunjukkan betapa luasnya resonansi publik terhadap kasus ini.

Tidak hanya #IndonesiaGelap, nama "Affan" juga menduduki puncak trending topic di Indonesia dengan lebih dari 157.000 cuitan. Hal ini mencerminkan solidaritas dan simpati yang besar dari masyarakat terhadap keluarga dan kerabat yang ditinggalkan, serta solidaritas sesama pengemudi ojol yang merasa rentan dan tidak terlindungi.

Berbagai ungkapan duka dan kritik pedas membanjiri linimasa X. Seorang netizen menulis, "Duka mendalam atas kepergian Affan Kurniawan. Meski tak saling kenal, kami turut kehilangan. Ku coba semampuku menyuarakan kesadaran tentang bobroknya negeri dan hilangnya kemanusiaan. Semoga kau damai di sana, dalam keabadian. #indonesiagelap #1312ACAB #demodpr." Cuitan ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap sistem yang dianggap gagal melindungi warganya dan hilangnya rasa kemanusiaan dalam penegakan hukum. Tagar #1312ACAB yang disertakan secara implisit mengkritik kinerja aparat kepolisian.

Netizen lainnya mengungkapkan, "Never thought independence day could be this heavy #IndonesiaGelap," seolah menyiratkan bahwa makna kemerdekaan terasa hambar di tengah kondisi yang dianggap suram. Sementara itu, warganet lain menulis, "Kini Ibu sedang murka. Melihat rakyatnya disiksa. #IndonesiaGelap," menggunakan personifikasi "Ibu Pertiwi" yang marah sebagai simbol kemarahan dan kekecewaan terhadap ketidakadilan yang terjadi. Ada pula yang menyerukan perubahan sistem dengan menulis, "#Resetindonesia #dprbebannegara #IndonesiaGelap," menunjukkan hilangnya kepercayaan terhadap lembaga perwakilan rakyat.

Selain #IndonesiaGelap dan nama Affan, beberapa tagar lain juga menjadi trending topic terkait dengan peristiwa ini. "Ojol" menjadi trending dengan lebih dari 512.000 cuitan, menunjukkan perhatian besar terhadap nasib para pengemudi ojek online yang seringkali bekerja dalam kondisi rentan. Tagar "DITABRAK" juga mencuat dengan lebih dari 37.500 cuitan, menyoroti fakta tragis dari kejadian tersebut. Yang lebih pedas lagi, tagar "#PolisiPembunuhRakyat" juga ramai digunakan dengan lebih dari 88.000 cuitan, mencerminkan kemarahan dan tuduhan terhadap aparat kepolisian atas insiden ini. Penggunaan tagar ini sangat provokatif dan berpotensi memperkeruh suasana, menunjukkan tingkat emosi publik yang tinggi.

Ojol Affan Kurniawan Tewas Dilindas, #IndonesiaGelap Bergema

Lonjakan pencarian terkait "Brimob" juga tercatat di Google Trends, dengan search volume mencapai 200.000 atau kenaikan sebesar 1000%. Hal ini menunjukkan betapa besarnya perhatian dan keingintahuan publik terhadap keterlibatan Brimob dalam peristiwa ini. Masyarakat berusaha mencari informasi lebih lanjut tentang kronologi kejadian, latar belakang, dan potensi implikasinya.

Munculnya kembali tagar #IndonesiaGelap mengingatkan pada gelombang protes serupa yang sempat mewarnai media sosial beberapa waktu lalu. Tagar ini menjadi simbol ketidakpuasan terhadap berbagai isu, mulai dari masalah ekonomi, sosial, hingga penegakan hukum. Ironisnya, di tengah maraknya penggunaan tagar #IndonesiaGelap, Presiden Prabowo Subianto justru berpendapat sebaliknya. Dalam sebuah acara sarasehan ekonomi di Menara Mandiri, Jakarta Selatan, pada Selasa, 8 April 2025, Prabowo menyatakan bahwa kondisi Indonesia cerah.

"Saya, kalau dia merasa gelap, itu hak dia. Tapi kalau saya bangun pagi, Indonesia cerah. Kalau saya ketemu petani, petani gembira, peningkatan hasil mereka naik secara drastis, produksi naik drastis, kita potong semua regulasi yang nggak benar, kita sederhanakan," ujar Prabowo. Pernyataan ini kontras dengan sentimen yang berkembang di media sosial dan di kalangan masyarakat yang merasa tidak puas dengan kondisi yang ada. Perbedaan pandangan ini semakin memperlebar jurang antara pemerintah dan sebagian masyarakat yang merasa tidak didengar aspirasinya.

Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan dan gelombang protes yang menyertainya menjadi cerminan dari berbagai permasalahan yang masih menghantui Indonesia. Kesenjangan sosial ekonomi, ketidakadilan hukum, dan kurangnya perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi isu-isu yang terus disuarakan oleh masyarakat. Munculnya kembali tagar #IndonesiaGelap adalah sinyal kuat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah dan seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang lebih adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi aparat penegak hukum untuk bertindak lebih profesional dan humanis dalam menjalankan tugasnya, serta menghindari penggunaan kekerasan yang berlebihan yang dapat merugikan masyarakat sipil.

Penting untuk dicatat bahwa penggunaan media sosial sebagai wadah ekspresi dan protes memiliki dua sisi mata pisau. Di satu sisi, media sosial memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi dan mengkritik kebijakan pemerintah. Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana penyebaran informasi yang tidak akurat, ujaran kebencian, dan provokasi yang dapat memicu konflik sosial. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk bijak dalam menggunakan media sosial dan selalu memverifikasi informasi yang diterima sebelum menyebarkannya. Pemerintah dan aparat penegak hukum juga perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi penyebaran informasi yang menyesatkan dan mencegah terjadinya polarisasi di masyarakat.

Ke depan, dialog yang konstruktif antara pemerintah dan masyarakat perlu ditingkatkan untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa. Pemerintah perlu lebih mendengarkan aspirasi masyarakat dan mengambil tindakan yang responsif untuk mengatasi ketidakadilan dan kesenjangan sosial ekonomi. Masyarakat juga perlu berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan dan memberikan kontribusi positif untuk kemajuan bangsa. Hanya dengan kerja sama dan gotong royong, Indonesia dapat keluar dari kegelapan dan menuju masa depan yang lebih cerah. Tragedi Affan Kurniawan harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan perubahan yang mendalam demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik bagi seluruh rakyatnya.

Kasus ini juga menyoroti pentingnya perlindungan hukum dan sosial bagi para pengemudi ojek online. Profesi ini semakin populer di Indonesia, namun seringkali para pengemudi bekerja dalam kondisi yang rentan dan tanpa jaminan sosial yang memadai. Pemerintah dan perusahaan aplikasi ojek online perlu bekerja sama untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan para pengemudi, termasuk memberikan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, dan jaminan pensiun. Selain itu, perlu ada regulasi yang jelas mengenai hak dan kewajiban para pengemudi serta mekanisme penyelesaian sengketa yang adil.

Akhirnya, tragedi Affan Kurniawan adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menghargai nyawa manusia dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kekerasan dan ketidakadilan tidak boleh dibiarkan terjadi di negara yang menjunjung tinggi Pancasila. Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Solidaritas dan kepedulian terhadap sesama adalah kunci untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa depan. Kematian Affan Kurniawan tidak boleh sia-sia, tetapi harus menjadi pemicu perubahan positif bagi bangsa dan negara.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :