Kepadatan penumpang membeludak di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/8/2025) malam, menciptakan pemandangan yang memprihatinkan. Penumpukan ini merupakan dampak langsung dari penghentian operasional kereta rel listrik (KRL) menuju Serpong dan Rangkasbitung, sebagai akibat dari aksi demonstrasi yang berujung ricuh di sekitar Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Menurut pantauan kumparan di lokasi kejadian pada pukul 19.12 WIB, area depan pintu masuk peron 5 dan 6 stasiun dipenuhi oleh kerumunan penumpang yang sangat padat. Meskipun petugas stasiun telah mengumumkan dan mengarahkan penumpang untuk mencari alternatif perjalanan melalui Stasiun Kebayoran, banyak dari mereka memilih untuk tetap bertahan dan menunggu di Stasiun Tanah Abang. Kondisi ini menyebabkan suasana stasiun semakin tidak kondusif, dengan sejumlah penumpang yang kelelahan terpaksa beristirahat bahkan tidur di lantai stasiun.
Pada pukul 19.21 WIB, terlihat pergerakan kerumunan penumpang yang mendekati pintu peron yang dijaga oleh petugas keamanan. Mereka berharap bahwa jalur kereta api telah kembali dibuka dan perjalanan dapat dilanjutkan. Namun, harapan mereka pupus karena perjalanan kereta api masih belum diizinkan untuk beroperasi.
"Kereta kami sudah siap, tapi belum bisa jalan. Mohon dimaklumi ya bapak ibu. Soalnya massa aksi meluber hingga ke rel, itu yang berbahaya," ujar seorang petugas stasiun kepada para penumpang yang menunggu dengan cemas.
Ketika ditanya mengenai perkiraan waktu pembukaan kembali jalur kereta api, petugas tersebut menjawab, "Kami juga masih belum tahu, kami masih menunggu arahan."
Ketidakpastian ini memicu kekecewaan di antara para penumpang. Beberapa dari mereka mulai menyoraki petugas stasiun dengan teriakan-teriakan seperti "Huuu kecewa, ayo buka dong, Pak."
Seorang penumpang bahkan menyampaikan keluhan secara langsung kepada petugas, "Pak ayo dong, perkiraan aja jam berapa ini dibuka, saya ini mau ketemu ibu saya," ujarnya dengan nada putus asa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang belum dapat memberikan kepastian mengenai kapan perjalanan KRL tujuan Serpong dan Rangkasbitung dari Stasiun Tanah Abang akan kembali normal. Ketidakjelasan ini semakin menambah kecemasan dan ketidaknyamanan para penumpang yang terjebak di stasiun.
Sebelumnya, aksi demonstrasi di Gedung DPR meluas hingga ke rel kereta api di lintas Tanah Abang-Palmerah, Jakarta Barat. Situasi ini menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap perjalanan KRL commuter line.
Untuk sementara waktu, perjalanan Commuter Line Rangkasbitung hanya beroperasi hingga Stasiun Palmerah dan Kebayoran, sebelum kembali menuju Stasiun Serpong dan Rangkasbitung.
"Jalur rel lintas Tanah Abang – Palmerah terdapat kerumunan massa. Untuk sementara, perjalanan Commuter Line Rangkasbitung dari Stasiun Tanah Abang dihentikan," kata VP Corporate Secretary KAI Commuter, Joni Martinus, dalam keterangan resminya pada Kamis (28/8) pukul 16.30 WIB.
"Untuk pengguna tujuan Serpong/Rangkasbitung, dapat naik dan turun di Stasiun Kebayoran. Sedangkan pengguna tujuan Cikarang, Bogor, dan Tangerang dapat naik dan turun di Stasiun Karet," imbuh Joni.
Situasi ini menggambarkan betapa rentannya transportasi publik terhadap gangguan yang disebabkan oleh aksi demonstrasi atau kejadian luar biasa lainnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para penumpang yang tertunda perjalanannya, tetapi juga dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan mereka, seperti pekerjaan, pendidikan, dan urusan keluarga.
Pemerintah dan pihak terkait perlu mengambil langkah-langkah antisipatif untuk meminimalkan dampak gangguan transportasi publik akibat demonstrasi atau kejadian serupa. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:
-
Koordinasi yang Lebih Baik: Meningkatkan koordinasi antara pihak kepolisian, pengelola transportasi publik, dan pihak terkait lainnya dalam mengamankan jalur transportasi publik selama aksi demonstrasi.
-
Informasi yang Akurat dan Tepat Waktu: Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat mengenai gangguan perjalanan dan alternatif transportasi yang tersedia. Informasi ini dapat disebarluaskan melalui berbagai saluran komunikasi, seperti media sosial, aplikasi transportasi, dan pengumuman di stasiun.
-
Rute Alternatif: Mengembangkan rute alternatif untuk transportasi publik yang dapat digunakan jika jalur utama terganggu oleh demonstrasi atau kejadian lainnya.
-
Peningkatan Kapasitas: Meningkatkan kapasitas transportasi publik pada rute-rute alternatif untuk mengakomodasi lonjakan penumpang akibat gangguan pada jalur utama.
-
Dialog dengan Demonstran: Melakukan dialog dengan para demonstran untuk mencari solusi yang saling menguntungkan dan meminimalkan gangguan terhadap transportasi publik.
Selain itu, masyarakat juga perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang lebih baik mengenai dampak demonstrasi terhadap transportasi publik. Dengan demikian, mereka dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam merencanakan perjalanan dan mencari alternatif transportasi jika terjadi gangguan.
Kejadian di Stasiun Tanah Abang ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih siap dan tanggap dalam menghadapi gangguan transportasi publik akibat demonstrasi atau kejadian luar biasa lainnya. Dengan koordinasi yang baik, informasi yang akurat, dan kesadaran masyarakat yang tinggi, dampak negatif dari gangguan tersebut dapat diminimalkan.
Penting juga untuk diingat bahwa transportasi publik merupakan urat nadi kehidupan masyarakat perkotaan. Gangguan terhadap transportasi publik dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, menjaga kelancaran dan keamanan transportasi publik merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah, pengelola transportasi publik, aparat keamanan, demonstran, dan masyarakat umum perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan kota yang lebih layak huni dan berkelanjutan.
Ke depan, diharapkan kejadian serupa tidak terulang kembali. Pihak berwenang perlu mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah demonstrasi meluas hingga ke jalur kereta api. Selain itu, masyarakat juga perlu menyadari bahwa tindakan mereka dapat berdampak besar terhadap kepentingan orang lain.
Mari kita jadikan kejadian di Stasiun Tanah Abang ini sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab kita terhadap transportasi publik. Dengan begitu, kita dapat mewujudkan sistem transportasi yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Sebagai tambahan informasi, Stasiun Tanah Abang merupakan salah satu stasiun kereta api tersibuk di Jakarta. Stasiun ini melayani ribuan penumpang setiap harinya, terutama pada jam-jam sibuk. Penumpukan penumpang di Stasiun Tanah Abang dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti keterlambatan kereta api, gangguan teknis, dan peningkatan jumlah penumpang pada hari-hari tertentu.
Oleh karena itu, pihak pengelola stasiun perlu terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan dan fasilitas stasiun, sehingga dapat memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi para penumpang. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
-
Peningkatan Frekuensi Kereta Api: Meningkatkan frekuensi perjalanan kereta api, terutama pada jam-jam sibuk, untuk mengurangi penumpukan penumpang di stasiun.
-
Penambahan Gerbong Kereta Api: Menambah jumlah gerbong kereta api untuk meningkatkan kapasitas angkut dan mengurangi kepadatan penumpang di dalam kereta api.
-
Perbaikan Jadwal Kereta Api: Memperbaiki jadwal perjalanan kereta api agar lebih tepat waktu dan dapat diandalkan.
-
Peningkatan Fasilitas Stasiun: Meningkatkan fasilitas stasiun, seperti ruang tunggu yang lebih luas, toilet yang bersih, dan fasilitas informasi yang mudah diakses.
-
Pengembangan Sistem Informasi: Mengembangkan sistem informasi yang terintegrasi untuk memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada para penumpang mengenai jadwal perjalanan, keterlambatan, dan perubahan lainnya.
Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan Stasiun Tanah Abang dapat menjadi stasiun yang lebih nyaman dan aman bagi para penumpang. Selain itu, diharapkan juga dapat mengurangi risiko penumpukan penumpang dan gangguan perjalanan akibat demonstrasi atau kejadian lainnya.