Polisi Tangkap 54 Pendemo di Semarang yang Rusak Fasilitas Umum

  • Maskobus
  • Aug 29, 2025

Semarang, Jawa Tengah – Aparat kepolisian berhasil mengamankan 54 demonstran terkait aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (29/8/2025). Para demonstran tersebut ditangkap atas dugaan melakukan perusakan fasilitas umum dan tindakan anarkis lainnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, menjelaskan bahwa dari 54 orang yang diamankan, 9 orang dibawa ke Polrestabes Semarang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Sementara itu, 45 demonstran lainnya dibawa ke Polda Jateng untuk proses investigasi yang lebih mendalam.

"Para pelaku anarkis ini sedang dalam proses pendataan untuk pengambilan keterangan, pengumpulan informasi, dan juga pemeriksaan intensif oleh tim penyidik," ungkap Kombes Pol Artanto pada Jumat (29/8) malam.

Meskipun pihak kepolisian belum merinci identitas dan usia para pelaku, Kombes Pol Artanto menegaskan bahwa mereka adalah bagian dari kelompok demonstran yang terlibat dalam aksi perusakan fasilitas umum, pelemparan benda-benda berbahaya, termasuk bom molotov, ke arah petugas kepolisian yang mengamankan jalannya aksi unjuk rasa.

Polisi Tangkap 54 Pendemo di Semarang yang Rusak Fasilitas Umum

"Kami sangat menyesalkan tindakan anarkis yang dilakukan oleh para demonstran ini. Mereka tidak hanya merusak fasilitas umum yang seharusnya dijaga bersama, tetapi juga membahayakan keselamatan petugas kepolisian dan masyarakat sekitar," tegas Kombes Pol Artanto.

Menurut laporan yang diterima oleh pihak kepolisian, aksi unjuk rasa yang berujung ricuh ini menyebabkan sejumlah kerusakan signifikan pada fasilitas umum di sekitar lokasi demonstrasi. Beberapa kendaraan dinas milik pemerintah dan kendaraan pribadi milik warga sipil menjadi sasaran amuk massa.

"Ada indikasi pembakaran mobil di lingkungan kantor gubernur, kurang lebih empat unit mobil hangus terbakar. Selain itu, tiga unit sepeda motor juga ikut dibakar oleh para demonstran. Sebuah pos Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga mengalami kerusakan parah akibat dirusak oleh massa," jelas Kombes Pol Artanto.

Tidak hanya itu, beberapa kendaraan yang terparkir di sekitar kantor gubernur juga mengalami kerusakan akibat lemparan batu dan benda-benda keras lainnya yang dilakukan oleh para demonstran. Kaca-kaca mobil pecah dan bodi kendaraan mengalami penyok akibat amukan massa.

Kombes Pol Artanto menambahkan bahwa aksi unjuk rasa serupa juga terjadi di beberapa wilayah lain di Jawa Tengah, seperti Magelang Kota dan Kota Solo. Namun, berkat kesigapan aparat kepolisian dan koordinasi yang baik dengan berbagai pihak, aksi unjuk rasa di kedua wilayah tersebut berhasil diredam dan tidak sampai menimbulkan kericuhan yang meluas.

"Kami bersyukur bahwa situasi di Magelang Kota dan Kota Solo dapat dikendalikan dengan baik. Kami mengapresiasi kerja keras seluruh personel kepolisian yang telah bertugas dengan profesional dan proporsional dalam mengamankan jalannya aksi unjuk rasa," ujar Kombes Pol Artanto.

Lebih lanjut, Kombes Pol Artanto menyampaikan bahwa situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di seluruh wilayah Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang, telah berangsur kondusif pada pukul 22.45 WIB. Pihak kepolisian terus melakukan patroli dan pengawasan intensif untuk memastikan tidak ada lagi aksi-aksi lanjutan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan.

"Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Mari kita jaga bersama kondusivitas wilayah Jawa Tengah agar tetap aman dan nyaman untuk ditinggali," pesan Kombes Pol Artanto.

Akibat dari aksi unjuk rasa yang berujung ricuh ini, sejumlah anggota kepolisian dan masyarakat sipil mengalami luka-luka. Mereka mengalami luka robek, memar, hingga sesak napas akibat paparan gas air mata yang digunakan oleh aparat kepolisian untuk membubarkan massa.

"Total ada kurang lebih 42 orang yang mengalami luka-luka. Di Semarang, ada 20 orang yang terluka, terdiri dari 7 anggota Polri dan 13 masyarakat atau pengunjuk rasa. Di Solo, ada 13 orang yang terluka, terdiri dari 9 anggota Polri, 1 anggota TNI, dan 3 masyarakat sipil. Sementara itu, di Magelang, ada 9 orang yang terluka dan masih dalam proses pendataan. Rata-rata luka yang dialami adalah luka robek pada kepala, memar pada anggota tubuh, dan sebagian besar masyarakat mengalami sesak napas akibat paparan gas air mata," rinci Kombes Pol Artanto.

Para korban luka-luka tersebut telah mendapatkan penanganan medis yang memadai di rumah sakit dan puskesmas terdekat. Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk memastikan ketersediaan fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang cukup untuk menangani para korban.

Menanggapi kejadian ini, sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama di Jawa Tengah menyampaikan keprihatinan mereka atas aksi unjuk rasa yang berujung ricuh tersebut. Mereka mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menyampaikan aspirasi dan menyelesaikan masalah.

"Kami sangat menyayangkan terjadinya aksi kekerasan dalam unjuk rasa ini. Seharusnya, aspirasi dapat disampaikan dengan cara yang lebih santun dan beradab, tanpa harus merusak fasilitas umum dan membahayakan keselamatan orang lain," ujar K.H. Ahmad Mustofa Bisri, seorang tokoh agama terkemuka di Jawa Tengah.

Senada dengan K.H. Ahmad Mustofa Bisri, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, K.H. Ahmad Darodji, juga mengimbau kepada seluruh umat Islam untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Jawa Tengah yang aman, damai, dan sejahtera.

"Mari kita jadikan momentum ini sebagai ajang untuk introspeksi diri dan mempererat tali persaudaraan. Kita harus menghindari segala bentuk provokasi dan ujaran kebencian yang dapat memecah belah persatuan bangsa," tegas K.H. Ahmad Darodji.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyampaikan apresiasi kepada aparat kepolisian dan seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam mengamankan jalannya aksi unjuk rasa. Ia juga menyampaikan keprihatinan atas kerusakan fasilitas umum dan korban luka-luka yang terjadi akibat kericuhan tersebut.

"Saya sangat menyesalkan terjadinya aksi kekerasan dalam unjuk rasa ini. Saya berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Mari kita jadikan Jawa Tengah sebagai daerah yang kondusif dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi," ujar Ganjar Pranowo.

Ganjar Pranowo juga menegaskan bahwa pemerintah provinsi Jawa Tengah akan memberikan bantuan kepada para korban luka-luka dan keluarga korban yang terdampak akibat kericuhan tersebut. Ia juga berjanji akan segera memperbaiki fasilitas umum yang rusak akibat aksi unjuk rasa tersebut.

"Kami akan segera melakukan pendataan terhadap kerusakan fasilitas umum dan memberikan bantuan kepada para korban luka-luka. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban mereka dan membantu mereka untuk segera pulih," kata Ganjar Pranowo.

Lebih lanjut, Ganjar Pranowo mengimbau kepada seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas wilayah Jawa Tengah agar tetap aman dan nyaman untuk ditinggali.

"Mari kita jaga bersama Jawa Tengah yang kita cintai ini. Jangan sampai terpecah belah oleh provokasi dan ujaran kebencian. Kita harus bersatu padu untuk membangun Jawa Tengah yang lebih baik di masa depan," pungkas Ganjar Pranowo.

Pihak kepolisian saat ini masih terus melakukan penyelidikan dan pengembangan kasus terkait aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di Kota Semarang. Tidak menutup kemungkinan akan ada penangkapan-penangkapan lainnya terhadap para pelaku yang terlibat dalam aksi anarkis tersebut.

"Kami akan terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku yang terlibat dalam aksi perusakan fasilitas umum dan tindakan anarkis lainnya. Kami tidak akan memberikan ruang bagi para pelaku kejahatan untuk beraksi di wilayah Jawa Tengah," tegas Kombes Pol Artanto.

Pihak kepolisian juga mengimbau kepada masyarakat yang memiliki informasi terkait aksi unjuk rasa yang berujung ricuh tersebut untuk segera melaporkannya kepada pihak kepolisian terdekat. Informasi dari masyarakat sangat penting untuk membantu pihak kepolisian dalam mengungkap kasus ini secara tuntas.

"Kami mengharapkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam memberikan informasi terkait aksi unjuk rasa yang berujung ricuh ini. Setiap informasi yang diberikan akan kami tindak lanjuti secara profesional dan proporsional," kata Kombes Pol Artanto.

Dengan adanya penangkapan terhadap 54 demonstran ini, diharapkan dapat memberikan efek jera bagi para pelaku tindak pidana dan mencegah terjadinya aksi serupa di masa mendatang. Pihak kepolisian juga akan terus meningkatkan patroli dan pengawasan di seluruh wilayah Jawa Tengah untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Demonstrasi merupakan hak warga negara dalam berdemokrasi. Untuk kepentingan bersama, sebaiknya demonstrasi dilakukan secara damai tanpa aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :