RS Pelni Catat 24 Orang Korban Aksi Demo Masuk IGD

  • Maskobus
  • Aug 31, 2025

Rumah Sakit Pelni mencatat sebanyak 24 orang korban aksi demonstrasi masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Di antara mereka adalah Moh Umar Amarudin, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang mengalami luka-luka saat berlangsungnya unjuk rasa. Peristiwa ini menjadi catatan kelam dari serangkaian aksi demonstrasi yang berujung ricuh di ibu kota. Data ini memberikan gambaran sekilas tentang dampak langsung dari konflik jalanan terhadap masyarakat sipil.

Abdul Aziz Purnomo, VP Corporate Secretary and Legal PT RS Pelni, memberikan keterangan pada Sabtu, 30 Agustus 2025, bahwa dari total 24 korban yang masuk IGD, 19 di antaranya terindikasi hanya memerlukan rawat jalan. Artinya, luka-luka yang mereka alami relatif ringan dan tidak memerlukan penanganan medis intensif di rumah sakit. Namun, lima pasien lainnya memerlukan perawatan lebih lanjut dan harus menjalani rawat inap.

"Lima pasien menjalani rawat inap. Dari lima itu, satu orang dirujuk ke rumah sakit tipe A (RSPAD)," ujar Aziz, menjelaskan lebih lanjut mengenai kondisi pasien. Rujukan ke RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) menunjukkan bahwa pasien tersebut membutuhkan penanganan medis yang lebih spesifik dan fasilitas yang lebih lengkap, yang mungkin tidak tersedia di RS Pelni. Hal ini mengindikasikan bahwa setidaknya satu orang mengalami luka yang cukup serius akibat bentrokan tersebut.

Aziz menambahkan bahwa satu pasien lainnya dijadwalkan untuk diperbolehkan pulang pada hari Sabtu pukul 16.00 WIB. Ini memberikan sedikit kabar baik di tengah situasi yang memprihatinkan, menunjukkan bahwa beberapa korban luka berhasil pulih dengan cepat dan dapat kembali ke rumah masing-masing.

Kejadian ini menyoroti pentingnya fasilitas kesehatan seperti RS Pelni dalam memberikan pertolongan pertama dan perawatan medis bagi korban kerusuhan dan demonstrasi. Kemampuan rumah sakit untuk menangani sejumlah besar pasien dalam waktu singkat menunjukkan kesiapan mereka dalam menghadapi situasi darurat.

RS Pelni Catat 24 Orang Korban Aksi Demo Masuk IGD

Aksi unjuk rasa yang berujung pada jatuhnya korban ini berlangsung sejak Kamis, 28 Agustus, hingga Jumat, 29 Agustus. Selama dua hari tersebut, eskalasi ketegangan antara massa demonstran dan aparat kepolisian terus meningkat, mencapai puncaknya pada bentrokan fisik yang mengakibatkan luka-luka bagi kedua belah pihak, serta masyarakat sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Situasi memanas pada Kamis malam setelah sebuah kendaraan taktis (rantis) Barracuda milik Brimob melindas seorang pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan hingga meninggal dunia. Insiden tragis ini memicu kemarahan dan kekecewaan di kalangan demonstran dan masyarakat luas, semakin memperkeruh suasana dan memicu aksi-aksi yang lebih anarkis.

Kematian Affan Kurniawan menjadi simbol dari kekerasan yang terjadi selama aksi demonstrasi tersebut. Peristiwa ini memicu gelombang kecaman terhadap aparat kepolisian dan menuntut pertanggungjawaban atas tindakan represif yang dianggap berlebihan.

Beberapa jam setelah Affan dinyatakan meninggal dunia di RSCM Jakarta Pusat, tujuh anggota polisi yang berada di dalam rantis tersebut langsung ditangkap dan diperiksa oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri. Langkah cepat yang diambil oleh pihak kepolisian ini menunjukkan keseriusan mereka dalam menangani kasus ini dan memberikan keadilan bagi korban.

Ketujuh anggota polisi tersebut kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan mengenakan baju tahanan. Proses hukum terhadap mereka diharapkan dapat berjalan transparan dan adil, sehingga dapat mengungkap fakta sebenarnya dan memberikan hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatan mereka.

Penetapan tersangka terhadap tujuh anggota polisi ini menjadi preseden penting dalam penegakan hukum terhadap aparat yang melakukan pelanggaran selama bertugas. Hal ini juga menjadi peringatan bagi aparat lainnya untuk selalu bertindak profesional dan proporsional dalam menjalankan tugas pengamanan.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut menunjukkan kepeduliannya terhadap para korban luka-luka akibat bentrokan dengan menjenguk mereka di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan RS Pelni, Jakarta, pada Jumat (29/8) malam. Kunjungan ini merupakan bentuk simpati dan dukungan moral dari pemerintah terhadap para korban dan keluarga mereka.

Di RS Pelni, Gibran menemui Umar, pengemudi ojol yang sempat dikabarkan meninggal dunia, namun ternyata masih hidup dalam kondisi sadar dan menjalani perawatan. Pertemuan ini memberikan harapan dan semangat baru bagi Umar dan keluarganya. Kehadiran Gibran di sisi Umar menunjukkan bahwa pemerintah hadir untuk memberikan dukungan dan memastikan bahwa korban mendapatkan perawatan yang terbaik.

Dalam kunjungannya, Gibran menanyakan kondisi luka Umar serta situasi saat dirinya berada di lokasi bentrokan. Umar menceritakan pengalamannya dan bagaimana ia bisa menjadi korban dalam aksi demonstrasi tersebut. Gibran mendengarkan dengan seksama dan memberikan kata-kata motivasi kepada Umar.

Umar mengaku melewati jalan rawan karena banyak akses jalan lain ditutup akibat aksi. Hal ini menunjukkan bahwa aksi demonstrasi tersebut tidak hanya berdampak pada para demonstran dan aparat kepolisian, tetapi juga pada masyarakat umum yang terganggu aktivitasnya akibat penutupan jalan dan kemacetan.

Menanggapi hal itu, Gibran meminta Umar untuk beristirahat penuh. "Istirahat yang cukup, tiga hari pulang," kata Gibran kepada Umar, memberikan semangat dan harapan agar Umar segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke RS Pelni dan RSCM menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan perhatian dan bantuan kepada para korban aksi demonstrasi. Hal ini juga menjadi pesan bahwa pemerintah tidak akan mentolerir segala bentuk kekerasan dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, bahwa aksi demonstrasi harus dilakukan dengan damai dan tanpa kekerasan. Aparat kepolisian juga harus bertindak profesional dan proporsional dalam mengamankan aksi demonstrasi, serta menghindari tindakan represif yang dapat memicu bentrokan. Masyarakat juga harus berhati-hati dan menghindari lokasi-lokasi rawan saat terjadi aksi demonstrasi untuk menghindari menjadi korban.

Penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan aksi demonstrasi ini, sehingga dapat diidentifikasi kelemahan dan kekurangan yang perlu diperbaiki. Hal ini bertujuan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan dan memastikan bahwa aksi demonstrasi dapat dilakukan dengan aman dan damai, tanpa mengganggu ketertiban umum dan merugikan masyarakat.

Selain itu, perlu adanya dialog yang konstruktif antara pemerintah, aparat kepolisian, dan perwakilan demonstran untuk mencari solusi atas permasalahan yang menjadi penyebab aksi demonstrasi. Dialog ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan dan dapat meredam potensi konflik di masa depan.

Pemerintah juga perlu meningkatkan upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai hak dan kewajiban dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ketertiban umum dan menghindari tindakan-tindakan yang dapat memicu kekerasan.

Dengan kerjasama dan koordinasi yang baik antara semua pihak, diharapkan aksi demonstrasi dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan aspirasi masyarakat secara damai dan konstruktif, tanpa mengganggu ketertiban umum dan merugikan masyarakat. Kejadian di RS Pelni menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kedamaian dan menghindari kekerasan dalam setiap aksi demonstrasi.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :