Kekalahan di babak 32 besar Kejuaraan Dunia 2025 menjadi pukulan telak bagi pasangan ganda putra Indonesia, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani. Mimpi untuk meraih medali di turnamen bulutangkis paling bergengsi di dunia itu pupus sudah, menyisakan kekecewaan mendalam, terutama karena ini adalah debut mereka di panggung Kejuaraan Dunia.
Menghadapi pasangan Denmark, Rasmus Kjaer/Frederik Sogaard, Sabar/Reza memberikan perlawanan sengit. Pertandingan berlangsung dramatis, diwarnai kejar-kejaran poin dan adu mental yang menguras energi. Di gim kedua, Sabar/Reza mampu bangkit setelah kalah di gim pertama, menunjukkan semangat juang yang tinggi. Bahkan di gim ketiga, mereka memaksa lawan untuk bermain setting, membuktikan bahwa mereka tidak mudah menyerah.
Namun, dewi fortuna belum berpihak pada Sabar/Reza. Mereka harus mengakui keunggulan Kjaer/Sogaard dengan skor akhir 18-21, 21-18, 24-26. Kekalahan ini terasa sangat menyakitkan, bukan hanya karena mereka gagal melaju ke babak selanjutnya, tetapi juga karena mereka merasa sudah memberikan yang terbaik.
Sabar, dengan nada suara yang menunjukkan kekecewaan mendalam, mengungkapkan perasaannya seusai pertandingan. "Pastinya sedih karena ini adalah debut kami di Kejuaraan Dunia dan merupakan salah satu mimpi kami juga," ujarnya. Kata-kata ini mencerminkan betapa besar harapan yang mereka pikul di pundak mereka. Kejuaraan Dunia bukan sekadar turnamen biasa, melainkan panggung impian bagi setiap atlet bulutangkis.
Sabar mengakui bahwa ia dan Reza sudah berusaha sekuat tenaga untuk menampilkan performa terbaik. Mereka telah mempersiapkan diri dengan matang, baik secara fisik maupun mental. Namun, pertandingan adalah pertandingan, dan faktor-faktor non-teknis juga dapat mempengaruhi hasil akhir.
"Ada beberapa kesalahan technical seperti salah mengontrol bola, buru-buru, yang membuat kita sudah leading di game ketiga jadi kekejar dan Reza di game terakhir juga agak ketarik pahanya. Terus di poin setting (poin 24-24) kami kena fault itu juga sangat merugikan," jelas Sabar. Ia menyoroti beberapa kesalahan yang mereka lakukan di poin-poin krusial, yang pada akhirnya menjadi penentu kekalahan. Kesalahan-kesalahan kecil, yang mungkin tidak terlalu signifikan di pertandingan biasa, dapat berakibat fatal di turnamen sekelas Kejuaraan Dunia.
Reza, yang tampak sama terpukulnya dengan Sabar, mengungkapkan penyesalan yang sama. Ia juga menyoroti keputusan kontroversial dari hakim service, yang menurutnya merugikan mereka. "Kami biasanya di setiap turnamen adalah pernah kena fault, tetapi tidak seperti ini sampai 5-6 kali. Dan yang paling parah di poin setting tadi, tadi kita juga melakukan service pendek bukan service flick. Jadi rada membingungkan untuk kami, sebenarnya standard nya BWF seperti apa? Karena kami dari dulu service begitu- begitu saja," ungkap Reza dengan nada bertanya. Ia mempertanyakan konsistensi standar servis yang diterapkan oleh BWF (Badminton World Federation), karena ia merasa servis yang ia lakukan selama ini tidak berbeda dengan servis yang ia lakukan di pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Keputusan hakim service memang seringkali menjadi perdebatan di dunia bulutangkis. Batasan antara servis yang sah dan tidak sah sangat tipis, dan seringkali subjektivitas hakim service menjadi penentu. Dalam pertandingan yang ketat seperti ini, keputusan-keputusan kontroversial seperti ini dapat mempengaruhi mental pemain dan jalannya pertandingan.
Selain faktor teknis dan non-teknis, kondisi fisik juga menjadi kendala bagi Reza. Ia mengaku sudah mengalami cedera sebelum berangkat ke Kejuaraan Dunia, dan cedera tersebut kambuh saat ia melakukan gerakan yang memaksa di poin-poin akhir. Cedera tentu saja sangat mengganggu performa seorang atlet. Gerakan menjadi tidak leluasa, rasa sakit mengganggu konsentrasi, dan kepercayaan diri pun menurun.
Meskipun demikian, Reza tetap berusaha untuk bersikap sportif. Ia mengakui bahwa lawan bermain konsisten dan baik dalam meladeni perubahan-perubahan pola permainan yang ia dan Sabar terapkan. Kjaer/Sogaard memang menunjukkan kualitas yang baik sepanjang pertandingan. Mereka bermain tenang, sabar, dan tidak mudah terpancing emosi. Mereka juga mampu membaca permainan Sabar/Reza dengan baik, sehingga mampu mengantisipasi serangan-serangan yang dilancarkan oleh pasangan Indonesia tersebut.
Kekalahan ini tidak hanya memupus mimpi Sabar/Reza untuk meraih medali di Kejuaraan Dunia, tetapi juga memupus harapan Hendra Setiawan, yang bertindak sebagai pelatih mereka. Hendra, yang merupakan salah satu legenda bulutangkis Indonesia, memiliki harapan besar terhadap Sabar/Reza. Ia membidik medali sebagai target di ajang bulutangkis paling bergengsi di dunia itu. Namun, harapan tersebut harus pupus untuk sementara waktu.
Meskipun gagal meraih hasil yang diharapkan, Sabar/Reza tetap menunjukkan semangat juang yang tinggi dan potensi yang besar. Mereka masih muda dan memiliki banyak waktu untuk berkembang. Kekalahan ini harus dijadikan pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik di masa depan.
Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan yang perlu diperbaiki. Latihan yang lebih intensif, peningkatan kualitas teknik, dan pemantapan mental adalah beberapa hal yang perlu menjadi fokus perhatian. Selain itu, penanganan cedera yang tepat juga sangat penting untuk menjaga kondisi fisik pemain.
Dukungan dari pelatih, tim pendukung, dan masyarakat Indonesia juga sangat dibutuhkan untuk membangkitkan semangat Sabar/Reza. Mereka harus tahu bahwa mereka tidak sendirian. Kegagalan adalah bagian dari proses, dan dengan kerja keras dan dukungan yang kuat, mereka pasti bisa bangkit kembali dan meraih kesuksesan di masa depan.
Sabar/Reza memiliki potensi untuk menjadi salah satu pasangan ganda putra terbaik di Indonesia. Mereka memiliki kemampuan teknik yang baik, semangat juang yang tinggi, dan kemauan untuk belajar. Dengan bimbingan yang tepat dan kerja keras yang konsisten, mereka bisa meraih prestasi yang membanggakan di kancah internasional.
Kejuaraan Dunia 2025 mungkin bukan menjadi panggung kesuksesan bagi Sabar/Reza, tetapi ini adalah awal dari perjalanan panjang mereka. Masih banyak turnamen-turnamen lain yang menanti, dan mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan diri dan meraih impian mereka.
Masyarakat Indonesia berharap agar Sabar/Reza tidak patah semangat dan terus berjuang untuk mengharumkan nama bangsa di dunia bulutangkis. Kekalahan ini harus menjadi motivasi untuk menjadi lebih baik dan lebih kuat di masa depan. Semangat juang Sabar/Reza adalah cerminan dari semangat juang bangsa Indonesia.