Sahroni Turun dari Pimpinan Komisi III DPR, Netizen Bereaksi

  • Maskobus
  • Aug 29, 2025

Penggantian Ahmad Sahroni dari posisi pimpinan Komisi III DPR oleh Fraksi Partai NasDem memicu gelombang reaksi dari netizen Indonesia. Nama "Sahroni" bahkan sempat menduduki trending topic di platform X (dahulu Twitter) dengan lebih dari 38.100 cuitan, disusul dengan "NasDem" yang memperoleh 3.758 tweet pada saat berita ini ditulis, Jumat (29/8/2025) pukul 15.30 WIB. Reaksi beragam dari netizen mencerminkan berbagai perspektif terkait keputusan ini dan sosok Sahroni sendiri.

Beberapa netizen menyuarakan kekecewaan atas penggantian tersebut, mempertanyakan signifikansinya mengingat Sahroni tetap menjabat sebagai anggota DPR. Ungkapan seperti "Cuman pindah kursi doang dia, tep masih jadi anggota DPR. ngapainnnnn?? 🤔" mencerminkan sentimen bahwa perubahan posisi ini tidak membawa dampak substansial.

Komentar lain bahkan lebih tajam, menuding Sahroni tidak bersikap gentle dan seharusnya mengundurkan diri dari DPR jika memang merasa bertanggung jawab atas situasi yang berkembang. "Dicopot sama dia sendiri..kocak… Kalo gentle mah mundur dari dpr," tulis seorang netizen. Ungkapan singkat "BYE SAHRONI" juga mencerminkan sentimen ketidaksetujuan atau kekecewaan terhadap Sahroni.

Tak sedikit pula netizen yang mempertanyakan apakah Sahroni atau anggota DPR lainnya memiliki niatan untuk meminta maaf atas berbagai kontroversi yang melibatkan mereka. Pertanyaan "Ga ada niatan minta maaf gitu si sahroni atau anggota dewan yg lain ?" menunjukkan adanya harapan publik agar para wakil rakyat lebih responsif dan bertanggung jawab terhadap kritik dan tuntutan masyarakat.

Penggantian Sahroni dari kursi pimpinan Komisi III DPR dikonfirmasi melalui surat bernomor F.NasDem.758/DPR-RI/VIII/2025 yang beredar di kalangan wartawan pada hari Jumat (29/8/2025). Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Fraksi Partai NasDem, Viktor Bungtilu Laiskodat, dan ironisnya, juga ditandatangani oleh Sahroni sendiri sebagai Sekretaris Fraksi Partai NasDem. Penggantian ini menimbulkan pertanyaan mengenai alasan di balik keputusan tersebut dan implikasinya terhadap dinamika politik di Komisi III DPR.

Sahroni Turun dari Pimpinan Komisi III DPR, Netizen Bereaksi

Posisi Wakil Ketua Komisi III DPR yang ditinggalkan Sahroni kini diisi oleh Rusdi Masse Mappasessu, yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Komisi IV DPR. Perpindahan ini tentu akan membawa perubahan dalam komposisi dan arah kebijakan Komisi III DPR, yang memiliki peran strategis dalam bidang hukum, keamanan, dan hak asasi manusia.

Ahmad Sahroni, selama menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR, memang kerap menjadi sorotan publik. Salah satu pernyataannya yang kontroversial adalah mengenai gaji dan tunjangan anggota DPR. Ia meminta masyarakat untuk tidak terpaku pada nominal yang dianggap fantastis, dan berargumen bahwa tunjangan yang diterima anggota DPR lebih hemat dibandingkan dengan biaya perawatan rumah dinas yang sebelumnya disediakan. Menurut Sahroni, biaya perawatan rumah dinas, jika dikalkulasi, bisa mencapai lebih dari Rp 50 juta.

Selain itu, Sahroni juga pernah mengomentari tuntutan masyarakat yang meminta DPR dibubarkan dengan menyebut mereka sebagai "orang tolol sedunia". Pernyataan ini tentu saja menuai kecaman dari berbagai pihak dan semakin memperburuk citra DPR di mata publik.

Kontroversi-kontroversi yang melibatkan Sahroni ini kemungkinan besar menjadi salah satu faktor yang memicu reaksi keras dari netizen atas penggantian dirinya dari posisi pimpinan Komisi III DPR. Masyarakat tampaknya mengharapkan adanya perubahan yang lebih signifikan dalam tubuh DPR, bukan hanya sekadar pergantian posisi yang dianggap tidak substansial.

Lebih dalam, penggantian Sahroni dapat dianalisis dari beberapa perspektif:

  • Dinamika Internal Partai: Penggantian ini bisa jadi merupakan bagian dari dinamika internal Partai NasDem. Mungkin ada perbedaan pandangan atau kepentingan antara Sahroni dengan pimpinan partai terkait dengan isu-isu tertentu. Atau, bisa jadi ada pertimbangan strategis lain yang mendorong partai untuk mengganti Sahroni dengan Rusdi Masse, yang dianggap lebih mampu membawa aspirasi partai di Komisi III DPR.

  • Evaluasi Kinerja: Penggantian ini juga bisa menjadi indikasi adanya evaluasi kinerja terhadap Sahroni sebagai pimpinan Komisi III DPR. Mungkin ada penilaian bahwa Sahroni kurang efektif dalam menjalankan tugasnya, atau bahwa gaya kepemimpinannya tidak sesuai dengan harapan partai. Evaluasi kinerja ini bisa didasarkan pada berbagai faktor, seperti kemampuan Sahroni dalam mengelola rapat, menjalin komunikasi dengan pihak-pihak terkait, dan memperjuangkan kepentingan partai.

  • Respons terhadap Tekanan Publik: Reaksi keras dari publik terhadap berbagai pernyataan dan tindakan Sahroni juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi keputusan partai untuk menggantinya. Partai NasDem mungkin merasa perlu untuk mengambil tindakan tegas untuk meredam sentimen negatif publik dan memperbaiki citra partai. Penggantian Sahroni bisa dilihat sebagai upaya partai untuk menunjukkan bahwa mereka mendengarkan aspirasi masyarakat dan mengambil tindakan yang sesuai.

  • Konsolidasi Kekuatan: Penggantian Sahroni bisa jadi merupakan bagian dari upaya konsolidasi kekuatan di internal DPR. Mungkin ada kepentingan-kepentingan tertentu yang ingin mengamankan posisi strategis di Komisi III DPR, dan penggantian Sahroni menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Konsolidasi kekuatan ini bisa melibatkan berbagai pihak, termasuk partai politik, kelompok kepentingan, dan individu-individu tertentu.

  • Persiapan Pemilu Mendatang: Meskipun Pemilu masih beberapa tahun lagi, partai politik biasanya sudah mulai mempersiapkan diri sejak jauh hari. Penggantian Sahroni bisa jadi merupakan bagian dari strategi partai untuk menghadapi Pemilu mendatang. Partai NasDem mungkin ingin menempatkan figur-figur yang lebih populer dan memiliki citra yang lebih baik di posisi-posisi strategis, dengan harapan dapat meningkatkan elektabilitas partai.

Apapun alasan di balik penggantian Ahmad Sahroni dari posisi pimpinan Komisi III DPR, satu hal yang pasti adalah bahwa keputusan ini telah memicu perdebatan dan reaksi yang luas di kalangan masyarakat. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi para wakil rakyat untuk selalu menjaga amanah yang diberikan oleh rakyat dan bertindak dengan penuh tanggung jawab. Publik akan terus mengawasi kinerja para wakil rakyat dan memberikan penilaian yang kritis terhadap setiap tindakan dan kebijakan yang mereka ambil.

Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan negara. Masyarakat berhak untuk mengetahui alasan di balik setiap keputusan yang diambil oleh para pejabat publik, dan para pejabat publik berkewajiban untuk memberikan penjelasan yang jujur dan transparan. Dengan adanya transparansi dan akuntabilitas, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan lembaga-lembaga negara dapat ditingkatkan.

Pergantian Ahmad Sahroni juga memberikan pelajaran penting bagi para politisi. Dalam era media sosial seperti sekarang, setiap tindakan dan ucapan seorang politisi akan dengan mudah terekam dan disebarluaskan. Oleh karena itu, para politisi harus berhati-hati dalam bertindak dan berbicara, serta selalu menjaga etika dan moralitas. Politisi yang tidak mampu menjaga diri akan dengan mudah kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

Ke depan, diharapkan DPR dapat menjadi lembaga yang lebih representatif dan responsif terhadap aspirasi masyarakat. Para anggota DPR harus mampu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, mendengarkan keluhan dan saran dari masyarakat, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat. Dengan demikian, DPR dapat menjadi lembaga yang benar-benar berfungsi sebagai wakil rakyat dan berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa dan negara.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :