Sebuah studi terbaru mengindikasikan adanya korelasi signifikan antara durasi penggunaan ponsel (HP) pada anak-anak dengan penurunan kemampuan interaksi sosial mereka. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua, pendidik, dan ahli perkembangan anak, mengingat pentingnya interaksi sosial dalam pembentukan karakter, kemampuan emosional, dan adaptasi sosial di masa depan. Studi ini menyoroti perlunya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan aktivitas sosial yang sehat untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.
Aktivitas bermain di luar ruangan telah lama diakui memberikan sejumlah manfaat krusial bagi perkembangan anak-anak. Manfaat-manfaat ini mencakup peningkatan kesehatan fisik secara keseluruhan, yang meliputi penguatan otot, peningkatan koordinasi, dan pengembangan sistem kekebalan tubuh yang lebih baik. Selain itu, bermain di luar ruangan juga berkontribusi signifikan terhadap kesehatan mental anak, membantu mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Kreativitas anak juga terasah melalui eksplorasi lingkungan dan interaksi dengan teman sebaya, yang mendorong mereka untuk berpikir di luar kotak dan menemukan solusi inovatif.
Lebih lanjut, bermain di luar ruangan memperkuat ikatan (bonding) antara anak dengan orang tua, keluarga, dan teman-teman, menciptakan kenangan indah dan rasa kebersamaan yang penting untuk perkembangan emosional dan sosial mereka. Kemampuan akademik anak juga dapat ditingkatkan melalui pengalaman belajar langsung yang diperoleh dari bermain di alam, yang memperkaya pemahaman mereka tentang dunia di sekitar mereka. Yang terpenting, bermain sangat penting untuk perkembangan kemampuan emosi dan sosial anak, membantu mereka belajar mengelola emosi, berempati dengan orang lain, dan membangun hubungan yang sehat.
Studi yang dipublikasikan dalam Italian Journal of Pediatrics pada tahun 2020 meneliti hubungan antara screen time (waktu yang dihabiskan untuk menatap layar perangkat elektronik) dengan masalah perilaku pada anak usia 3-5 tahun di China. Temuan studi ini menunjukkan bahwa anak-anak yang menonton layar lebih dari 60 menit setiap hari cenderung memiliki masalah perilaku yang lebih signifikan dibandingkan dengan anak-anak yang jarang menonton. Masalah perilaku ini dapat mencakup kesulitan berkonsentrasi, hiperaktivitas, impulsivitas, dan kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Studi ini menyoroti pentingnya membatasi screen time pada anak usia dini untuk mencegah masalah perilaku yang dapat menghambat perkembangan mereka.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam International Journal of Multi Discipline Science meneliti efek bermain dan menonton terhadap perkembangan sosial dan perilaku pada anak usia dini. Studi ini menunjukkan bahwa bermain secara positif meningkatkan kemampuan komunikasi anak, kemampuan berempati, dan kemampuan memecahkan masalah. Anak-anak yang bermain aktif cenderung lebih mampu berkomunikasi secara efektif, memahami perasaan orang lain, dan menemukan solusi kreatif untuk masalah yang mereka hadapi. Sebaliknya, anak-anak yang terlalu banyak menonton cenderung mengalami penurunan kemampuan interaksi sosial serta gangguan konsentrasi.
Hal ini terjadi karena anak-anak yang bermain menggunakan imajinasi dan kreativitas mereka dalam mencari solusi dan membangun kemampuan sosial dengan orang lain. Mereka belajar bekerja sama, berbagi, berkompromi, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Sebaliknya, anak-anak yang terlalu banyak menonton cenderung mengalami penurunan pada kemampuan sosial mereka, mengalami gangguan konsentrasi, serta kurang mampu mengatasi emosi. Mereka mungkin menjadi lebih pasif, kurang termotivasi untuk berinteraksi dengan orang lain, dan kesulitan mengelola emosi mereka sendiri.
Saat ini, menonton sering kali menjadi alternatif bahkan menggantikan aktivitas bermain. Padahal, aktivitas bermain sangat penting karena tubuh memproduksi lebih banyak senyawa dopamin daripada sekadar menonton. Dopamin adalah neurotransmitter yang terkait dengan perasaan senang, motivasi, dan penghargaan. Ketika anak-anak bermain, otak mereka melepaskan dopamin, yang membuat mereka merasa senang dan termotivasi untuk terus bermain. Sebaliknya, menonton cenderung kurang merangsang pelepasan dopamin, yang dapat menyebabkan anak-anak merasa bosan dan kurang termotivasi.
Hal ini selaras dengan anjuran dari WHO (World Health Organization) yang menyarankan agar anak usia 5-17 tahun melakukan aktivitas fisik 1 jam sehari untuk kesehatan tubuh mereka. Aktivitas fisik membantu menjaga berat badan yang sehat, memperkuat tulang dan otot, serta meningkatkan kesehatan jantung dan paru-paru. Namun, kini semuanya tergantikan dengan menonton, yang dapat menyebabkan gaya hidup sedentari dan meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Remaja yang keseringan online atau lebih dari 4 jam sehari, diketahui mengalami kecemasan dan depresi sebanyak 27%. Hal ini tentunya akan berdampak juga pada anak-anak usia di bawahnya. Kecemasan dan depresi dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk kesulitan tidur, kehilangan nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan sedih atau putus asa. Apalagi perkembangan otak 90% terjadi sejak anak usia 5 tahun, sehingga paparan screen time yang berlebihan pada usia ini dapat mengganggu perkembangan otak yang optimal.
Penelitian menyarankan aktivitas di luar secara rutin dapat meningkatkan kemampuan anak. Seperti perkembangan daya ingat, kemampuan mengontrol emosi, serta kemampuan diri lainnya. Aktivitas di luar ruangan memberikan stimulasi sensorik yang penting untuk perkembangan otak anak. Paparan sinar matahari juga membantu tubuh memproduksi vitamin D, yang penting untuk kesehatan tulang dan sistem kekebalan tubuh. Maka dari itu, perlu dilakukan kegiatan rutin seperti jalan bersama keluarga, bermain sepeda bersama, hingga berkemah.
Keluarga merupakan kunci utama agar anak bermain. Orang tua memiliki peran penting dalam mendorong anak-anak untuk bermain dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Orang tua dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bermain dengan menyediakan mainan, ruang bermain, dan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Orang tua juga dapat menjadi contoh yang baik dengan membatasi screen time mereka sendiri dan menghabiskan waktu berkualitas bersama anak-anak mereka.
Dalam sebuah wawancara bersama dengan Sheena Sood, Konsultan – Psychology and Counsellor dari P.D. Hinduja Hospital & Medical Research Centre in Khar, Mumbai, bermain bersama keluarga akan memberikan kebahagiaan serta menggantikan kegiatan menonton anak. Bermain bersama keluarga memperkuat ikatan emosional dan menciptakan kenangan indah yang akan bertahan seumur hidup. Dia juga menyarankan agar orang tua dapat menghabiskan minimal sekitar 45-60 menit bermain bersama anak untuk pengembangan keterampilan anak. Waktu bermain ini dapat digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti bermain papan, membaca buku, menggambar, atau sekadar mengobrol.
Sheena juga pernah menemukan anak yang sering menonton dari IPAD, atau HP menimbulkan kekhawatiran pada orang tuanya. Sehingga orang tuanya mencoba untuk melakukan aktivitas bermain bersama seperti petak umpat atau bermain bersama hewan peliharaan. Aktivitas ini membuat anak lebih senang dan perlahan dapat meninggalkan kebiasaan menonton. Dengan melibatkan anak dalam aktivitas bermain yang menyenangkan dan interaktif, orang tua dapat membantu mereka mengurangi screen time dan mengembangkan kemampuan sosial dan emosional yang penting.
Kesimpulannya, studi ini memberikan bukti yang kuat tentang dampak negatif penggunaan HP yang berlebihan pada perkembangan sosial anak-anak. Orang tua dan pendidik perlu mengambil langkah-langkah proaktif untuk membatasi screen time anak-anak dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas bermain yang aktif dan interaktif. Dengan menciptakan keseimbangan yang sehat antara teknologi dan aktivitas sosial, kita dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan sosial, emosional, dan kognitif yang mereka butuhkan untuk berhasil di masa depan. Penting untuk diingat bahwa interaksi sosial adalah fondasi dari perkembangan manusia, dan kita harus memastikan bahwa anak-anak memiliki kesempatan yang cukup untuk berinteraksi dengan orang lain secara langsung.