Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia tidak hanya berdampak pada kesehatan dan aktivitas manusia, tetapi juga memicu serangkaian perilaku aneh pada hewan. Fenomena ini, yang teramati dalam berbagai penelitian dan laporan lapangan, mengindikasikan bahwa suhu tinggi yang berkepanjangan dapat mengganggu sistem fisiologis dan kognitif hewan, mengubah cara mereka berinteraksi dengan lingkungan, mencari makan, dan bahkan bereproduksi. Perubahan perilaku ini, meskipun mungkin merupakan mekanisme adaptasi sementara, berpotensi membawa konsekuensi jangka panjang bagi ekosistem, pertanian, dan ketahanan pangan manusia.
Salah satu contoh perilaku aneh yang sering dilaporkan adalah pada burung. Burung-burung seperti merpati dan bangau terlihat melakukan "gular fluttering," yaitu menggetarkan otot-otot tenggorokan mereka dengan cepat untuk membantu melepaskan panas tubuh melalui penguapan. Burung hitam sering terlihat terengah-engah, mencoba mengatur suhu tubuh mereka melalui pernapasan. Sementara itu, tupai sering terlihat "berserakan" di tanah, mencari tempat teduh dan meratakan tubuh mereka untuk memaksimalkan pelepasan panas ke lingkungan sekitar.
Perilaku-perilaku ini, meskipun terlihat sederhana, menunjukkan betapa kerasnya hewan-hewan tersebut berjuang untuk bertahan hidup di tengah suhu ekstrem. Gular fluttering dan terengah-engah adalah mekanisme fisiologis yang memerlukan energi ekstra, sementara mencari tempat teduh dan meratakan tubuh dapat mengurangi waktu yang tersedia untuk mencari makan dan berinteraksi sosial.
Tidak hanya burung dan tupai, hewan-hewan lain juga menunjukkan perilaku adaptasi yang tidak biasa. Cacing tanah dan siput, misalnya, memasuki kondisi dorman yang disebut aestivasi untuk mengatasi panas ekstrem. Aestivasi adalah keadaan tidak aktif yang mirip dengan hibernasi, di mana metabolisme hewan melambat dan mereka bersembunyi di tempat yang lembap dan sejuk untuk menghindari dehidrasi dan panas berlebih.
Hewan ternak, yang seringkali bergantung pada manusia untuk kelangsungan hidup mereka, juga sangat rentan terhadap dampak gelombang panas. Sapi-sapi sering terlihat berkumpul bersama, yang justru memperburuk suhu panas bagi mereka dan meningkatkan risiko mastitis (infeksi ambing) dan masalah kuku. Kuda-kuda kesulitan untuk tetap dingin meskipun berkeringat dan menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat panas dan ketidakseimbangan elektrolit.
Dr. Zoe Barker, seorang ilmuwan pertanian, menjelaskan bahwa perilaku berkumpul pada sapi dapat memiliki konsekuensi negatif yang signifikan. "Karena mereka tidak memanfaatkan area kandang sepenuhnya, area tempat mereka berbaring bisa menjadi lebih basah dan kotor, yang meningkatkan risiko mastitis. Mereka juga menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiri, yang berdampak pada kaki, tungkai, dan skor kepincangan mereka," katanya.
Respons-respons ini, meskipun membantu hewan bertahan hidup dari panas jangka pendek, dapat menyebabkan gangguan kognisi, keterlambatan perkembangan, berkurangnya pemberian makan, dan tingkat kesuburan yang lebih rendah. Profesor Alex Thornton dari Exeter University menjelaskan bahwa banyak hewan akan bersembunyi di tempat teduh, yang mungkin menyelamatkan mereka dari beberapa efek buruk panas, tetapi itu juga berarti mereka tidak akan keluar mencari makanan atau pasangan, yang dapat berdampak negatif jika panas tersebut berkepanjangan.
Dampak gelombang panas pada hewan tidak hanya terbatas pada perubahan perilaku dan fisiologis. Panas ekstrem juga dapat mengganggu cara hewan hidup, bereproduksi, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini dapat menyebabkan penurunan populasi, berkurangnya penyerbuk, dan berkurangnya ketahanan pangan manusia.
Laporan Guardian yang terpisah menyebutkan bahwa sebagian besar lebah muda tidak bertahan hidup ketika suhu sarang naik di atas 36 derajat Celsius, dengan kisaran ideal sekitar 28-32 derajat Celsius. Lebah pekerja mencoba mendinginkan sarang dengan mengipasi sayapnya, tetapi hal itu tidak selalu berhasil ketika cuaca sangat panas. Berkurangnya jumlah bayi lebah dan penyerbuk berarti terganggunya pertumbuhan makanan kita. Lebah memainkan peran penting dalam penyerbukan tanaman pertanian, dan penurunan populasi mereka dapat berdampak besar pada produksi pangan global.
Perubahan iklim, yang menyebabkan peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas, semakin memperburuk situasi ini. Hewan-hewan yang sudah berjuang untuk beradaptasi dengan suhu yang lebih tinggi kini menghadapi tantangan yang lebih besar. Beberapa spesies mungkin tidak mampu beradaptasi cukup cepat, yang dapat menyebabkan penurunan populasi atau bahkan kepunahan.
Untuk membantu hewan tetap sejuk dan meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup, ada beberapa langkah yang dapat diambil oleh individu dan masyarakat secara keseluruhan. Menanam spesies asli dan menyediakan area teduh di kebun dapat memberikan tempat berlindung bagi satwa liar. Memastikan untuk menyediakan wadah air dangkal untuk burung, serangga, dan hewan lainnya dapat membantu mereka tetap terhidrasi. Membiarkan rumput tumbuh panjang juga dapat memberikan perlindungan dari sinar Matahari.
Bagi pemilik hewan peliharaan, penting untuk menggunakan tabir surya yang aman untuk hewan peliharaan, memberi mereka banyak air, dan menjaga mereka tetap di dalam ruangan selama jam-jam terpanas di siang hari. Jangan pernah meninggalkan hewan peliharaan di dalam mobil yang terparkir, bahkan untuk waktu yang singkat, karena suhu di dalam mobil dapat meningkat dengan cepat dan menyebabkan heatstroke yang fatal.
Para ilmuwan pertanian juga berfokus pada pengembangan infrastruktur yang lebih tangguh dan meninjau kembali desain bangunan yang kondusif bagi kesejahteraan hewan. Hal ini termasuk membangun kandang yang lebih teduh dan berventilasi baik, menyediakan sistem pendingin air untuk ternak, dan mengembangkan strategi manajemen penggembalaan yang meminimalkan paparan panas.
Masa depan yang lebih bersih dan aman bergantung pada tindakan individu, perlindungan ruang hijau, dan pengurangan gas penyebab pemanasan global agar kita semua dapat lebih tahan terhadap panas. Mengurangi emisi gas rumah kaca adalah kunci untuk memperlambat perubahan iklim dan mengurangi frekuensi dan intensitas gelombang panas. Selain itu, melindungi dan memulihkan ekosistem alami, seperti hutan dan lahan basah, dapat membantu mengatur suhu lokal dan menyediakan habitat penting bagi satwa liar.
Pendidikan dan kesadaran publik juga penting untuk mengatasi dampak gelombang panas pada hewan. Dengan memahami bagaimana hewan merespons panas ekstrem dan bagaimana kita dapat membantu mereka, kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.
Pada akhirnya, mengatasi dampak gelombang panas pada hewan memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ilmuwan, petani, pemilik hewan peliharaan, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum. Dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan dan layak huni bagi semua makhluk hidup. Perlu diingat bahwa kesejahteraan hewan terkait erat dengan kesejahteraan manusia, dan melindungi mereka adalah bagian penting dari membangun masa depan yang lebih baik bagi kita semua.