Terungkap Alasan Orang Terlihat Sehat Bisa Kena Sakit Jantung-Stroke

  • Maskobus
  • Aug 31, 2025

Sebuah studi inovatif baru-baru ini membuka tabir misteri di balik kasus penyakit jantung dan stroke yang menyerang individu yang tampak sehat. Fenomena ini, di mana seseorang yang aktif berolahraga, menerapkan pola makan sehat, dan tidak merokok tiba-tiba didiagnosis dengan masalah kardiovaskular, telah lama membingungkan para ahli kesehatan. Penelitian ini, yang dipimpin oleh Mass General Brigham, bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko tersembunyi yang mungkin luput dari deteksi oleh algoritma pemeriksaan standar saat ini.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal terkemuka, para peneliti menganalisis data dari Women’s Health Study, yang melibatkan 12.530 wanita sehat tanpa faktor risiko kardiovaskular tradisional. Selama periode 30 tahun, kadar biomarker inflamasi yang disebut high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) dipantau secara cermat. Hasilnya sangat mengejutkan: meskipun para peserta tidak memiliki faktor risiko konvensional seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau diabetes, mereka yang memiliki kadar hsCRP tinggi secara signifikan lebih mungkin mengembangkan penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit kardiovaskular lainnya.

Secara khusus, wanita dengan kadar hsCRP tinggi memiliki risiko 77% lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner, risiko 39% lebih tinggi terkena stroke, dan risiko 52% lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular secara keseluruhan. Temuan ini menyoroti peran penting peradangan kronis dalam perkembangan penyakit kardiovaskular, bahkan pada individu yang dianggap sehat berdasarkan metrik tradisional.

Untuk mengkonfirmasi temuan ini, penelitian terpisah dilakukan untuk mengeksplorasi manfaat terapi statin pada pasien dengan sedikit faktor risiko tetapi mengalami peradangan. Hasilnya menunjukkan bahwa terapi statin dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke hingga 38% pada kelompok ini. Menariknya, para peneliti menyarankan agar terapi statin dimulai pada usia paruh baya (sekitar 40 tahun) pada wanita untuk memaksimalkan manfaat perlindungan.

Statin adalah kelas obat yang banyak diresepkan yang bekerja dengan menurunkan kadar kolesterol low-density lipoprotein (LDL), atau "kolesterol jahat," dalam darah. Obat ini diserap oleh sistem pencernaan dan kemudian bekerja di hati untuk mengurangi produksi LDL. Dengan menurunkan kadar LDL, statin membantu mencegah pembentukan plak di arteri, yang dapat menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri (aterosklerosis), yang merupakan faktor utama dalam penyakit jantung dan stroke.

Terungkap Alasan Orang Terlihat Sehat Bisa Kena Sakit Jantung-Stroke

"Meskipun mereka yang mengalami peradangan harus secara agresif melakukan upaya pencegahan lewat gaya hidup dan perilaku, terapi statin juga bisa berperan penting dalam membantu menurunkan risiko pada kelompok ini," kata ahli kardiologi Heart and Vascular Institute, Mass General Brigham, Paul Ridker, MD, MPG.

Implikasi dari penelitian ini sangat luas. Mereka menunjukkan bahwa fokus tunggal pada faktor risiko tradisional mungkin tidak cukup untuk mengidentifikasi semua individu yang berisiko terkena penyakit kardiovaskular. Peradangan, yang seringkali tidak terdeteksi oleh pemeriksaan rutin, muncul sebagai kontributor penting untuk perkembangan penyakit jantung dan stroke, bahkan pada orang yang tampak sehat.

Temuan ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang lebih komprehensif untuk pencegahan penyakit kardiovaskular, yang mencakup penilaian faktor risiko tradisional serta biomarker inflamasi seperti hsCRP. Dengan mengidentifikasi individu dengan kadar peradangan tinggi, dokter dapat menerapkan intervensi yang ditargetkan, seperti modifikasi gaya hidup dan terapi statin, untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke.

Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya memulai upaya pencegahan sejak dini. Dimulai terapi statin pada usia paruh baya pada wanita dengan peradangan dapat memberikan manfaat perlindungan yang signifikan terhadap penyakit kardiovaskular di kemudian hari.

Penting untuk dicatat bahwa penerapan gaya hidup sehat untuk mencegah faktor risiko penyakit kardiovaskular tetap penting dilakukan. Ini termasuk berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan sehat, menjaga berat badan yang sehat, tidak merokok, dan mengelola stres.

Penyakit jantung dan stroke adalah dua masalah kesehatan yang paling banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di Indonesia, diikuti oleh stroke. Kedua penyakit ini menyumbang sebagian besar beban penyakit di Indonesia dan menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.

Faktor risiko penyakit jantung dan stroke di Indonesia serupa dengan yang ditemukan di negara lain, termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, merokok, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan riwayat keluarga penyakit jantung. Namun, ada juga faktor risiko unik untuk Indonesia, seperti tingginya prevalensi merokok pada pria dan konsumsi makanan tinggi garam dan lemak jenuh.

Pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai strategi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit jantung dan stroke, termasuk kampanye kesehatan masyarakat untuk mempromosikan gaya hidup sehat, program skrining untuk mengidentifikasi individu yang berisiko, dan peningkatan akses ke perawatan medis. Namun, masih banyak yang perlu dilakukan untuk mengurangi beban penyakit jantung dan stroke di Indonesia.

Penelitian yang dibahas di sini memberikan wawasan berharga tentang kompleksitas penyakit kardiovaskular dan pentingnya pendekatan pencegahan yang komprehensif. Dengan mengidentifikasi faktor risiko tersembunyi seperti peradangan dan menerapkan intervensi yang ditargetkan, kita dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Sebagai penutup, studi ini memberikan bukti kuat bahwa penyakit jantung dan stroke dapat menyerang orang yang tampak sehat karena adanya peradangan kronis yang tidak terdeteksi. Penilaian kadar hsCRP dan intervensi dini dengan modifikasi gaya hidup dan terapi statin dapat membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular pada kelompok ini. Sementara gaya hidup sehat tetap penting, penelitian ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih komprehensif untuk pencegahan penyakit jantung dan stroke yang mempertimbangkan faktor risiko tradisional dan biomarker inflamasi. Dengan menerapkan strategi ini, kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam memerangi penyakit kardiovaskular dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :