SURABAYA, 30 Agustus 2025 – Gelombang unjuk rasa yang melanda Surabaya dalam dua hari terakhir, mencapai puncaknya pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025, telah memicu gangguan signifikan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi di kota pahlawan ini. Aksi demonstrasi, yang awalnya ditujukan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat, sayangnya berujung pada kericuhan dan perusakan fasilitas umum, memaksa penutupan pusat perbelanjaan, pembatalan acara seni, dan penyesuaian kegiatan belajar mengajar.
Dampak paling nyata dari kericuhan ini adalah terganggunya aktivitas bisnis dan perdagangan. Tunjungan Plaza, salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan paling ikonik di Surabaya, terpaksa mengakhiri jam operasional lebih awal pada hari Jumat, 29 Agustus 2025, sebelum pukul 21.00 WIB, satu jam lebih cepat dari jadwal biasanya. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap meluasnya kericuhan dari unjuk rasa di Gedung Negara Grahadi, yang dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan pengunjung dan karyawan.
Pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025, situasi semakin memburuk. Pengelola Pakuwon Mall dan Tunjungan Plaza secara resmi mengumumkan penutupan kedua pusat perbelanjaan tersebut untuk sementara waktu. Langkah ini diambil setelah mempertimbangkan situasi keamanan yang dianggap tidak kondusif untuk operasional pusat belanja. Prioritas utama pengelola adalah menjamin keselamatan dan keamanan para pengunjung, penyewa, dan karyawan. Penutupan dua pusat perbelanjaan utama ini memberikan pukulan telak bagi perekonomian Surabaya, mengingat keduanya merupakan pusat kegiatan ekonomi yang penting, menarik ribuan pengunjung setiap harinya, dan menampung ratusan toko dan restoran.
Aksi unjuk rasa yang memicu kericuhan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan kelompok aktivis. Pada Sabtu siang, massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara, yang terdiri dari gabungan kampus di Surabaya, menggelar demonstrasi di depan Markas Polda Jawa Timur. Mereka menyuarakan protes terhadap tindakan represif aparat kepolisian dalam menangani aksi demonstrasi di Jakarta, yang menyebabkan seorang pengemudi ojek online meninggal dunia.
Setelah menyampaikan aspirasi di Polda Jatim, sebagian massa melanjutkan aksi demonstrasi ke Markas Polrestabes Surabaya. Awalnya, aksi berjalan damai, namun menjelang pukul 18.00 WIB, situasi berubah menjadi tegang dan berujung pada kericuhan. Belum diketahui secara pasti penyebab pecahnya kericuhan tersebut, namun beberapa saksi mata melaporkan adanya provokasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Di tengah suasana yang memanas, muncul inisiatif positif dari sekelompok warga Surabaya yang menamakan diri Arek Suroboyo Bergerak. Mereka membagikan 1.000 kuntum bunga kepada para pengendara yang melintas di sekitar lokasi unjuk rasa. Aksi simbolis ini bertujuan untuk menyampaikan pesan damai dan harapan agar aksi-aksi unjuk rasa di Surabaya tidak berkembang menjadi kerusuhan yang akan merugikan seluruh masyarakat.
Dampak dari unjuk rasa yang berujung ricuh ini tidak hanya dirasakan oleh sektor ekonomi, tetapi juga merambah ke bidang seni dan budaya. Penyelenggara ArtSub, sebuah acara seni rupa kontemporer yang sedang berlangsung di Balai Pemuda Surabaya, terpaksa membatalkan pementasan Subperformance edisi Sabtu malam. Meskipun pameran besar tetap dibuka untuk umum, penyelenggara menyatakan akan menutup layanan sewaktu-waktu jika situasi keamanan terganggu. Pembatalan pementasan ini merupakan kerugian besar bagi para seniman dan pecinta seni di Surabaya, yang telah menantikan acara tersebut.
Sektor pendidikan juga tidak luput dari dampak unjuk rasa. Pimpinan SMA Katolik Santa Maria mengumumkan penyesuaian kegiatan belajar mengajar sebagai respons terhadap situasi keamanan yang tidak menentu. Pada hari Senin, 1 September 2025, para siswa akan mengikuti pembelajaran secara daring (online) untuk menghindari potensi risiko yang mungkin timbul akibat aksi unjuk rasa. Keputusan ini diambil untuk menjamin keselamatan dan keamanan para siswa dan guru.
Rentetan kejadian ini merupakan konsekuensi dari serangkaian aksi demonstrasi selama dua hari terakhir yang berakhir dengan kericuhan. Masyarakat di berbagai kampung di Surabaya meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas dan potensi peningkatan eskalasi menjadi kerusuhan. Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi mengenai kerusakan sarana dan prasarana akibat unjuk rasa pada hari Sabtu.
Namun, dampak kericuhan pada hari Jumat hingga tengah malam telah menyebabkan kerusakan yang signifikan. Setidaknya 15 pos polisi di berbagai lokasi di Surabaya mengalami kerusakan akibat amukan massa. Selain itu, sejumlah fasilitas publik seperti trotoar dan bola beton yang berfungsi sebagai dekorasi sekaligus penghalang sepeda motor turut menjadi sasaran perusakan. Papan monitor reklame digital yang berada di atas pos-pos polisi, seperti di Pos Kebun Binatang Surabaya dan Pos Taman Pelangi, juga ludes terbakar.
Menanggapi situasi ini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan anarkistis dalam menyampaikan pendapat di muka umum atau unjuk rasa. Ia menekankan pentingnya menyampaikan aspirasi secara tertib dan damai, tanpa merusak fasilitas umum yang merupakan milik bersama.
"Mari menyampaikan pendapat dengan tertib, jangan merusak fasilitas umum," kata Eri Cahyadi.
Senada dengan Wali Kota Eri Cahyadi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga menyampaikan imbauan serupa saat meninjau dampak demonstrasi di Gedung Negara Grahadi. Ia menyayangkan aksi pembakaran 21 sepeda motor yang parkir di area selatan kompleks Grahadi pada Jumat petang.
Khofifah berjanji akan mendengarkan aspirasi masyarakat dan mencari solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan yang ada. Ia berharap agar aksi-aksi demonstrasi selanjutnya dapat disampaikan secara tertib dan damai, tanpa merugikan kepentingan umum.
"Saya berharap dalam aksi-aksi selanjutnya disampaikan secara tertib," kata Khofifah.
Kepala Polda Jawa Timur Inspektur Jenderal Nanang Avianto menegaskan bahwa aparat kepolisian tidak akan menoleransi tindakan anarkistis dan akan menindak tegas pelaku perusakan dan kekerasan. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana.
Situasi di Surabaya saat ini masih belum sepenuhnya kondusif. Aparat keamanan terus meningkatkan patroli dan pengawasan untuk mencegah terjadinya aksi-aksi kekerasan dan perusakan lebih lanjut. Pemerintah Kota Surabaya juga berupaya untuk memulihkan fasilitas umum yang rusak dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak.
Unjuk rasa yang berujung ricuh ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Penting bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara damai dan konstruktif, tanpa melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Di sisi lain, aparat keamanan juga harus bertindak profesional dan proporsional dalam menangani aksi demonstrasi, menghindari penggunaan kekerasan yang berlebihan, dan menghormati hak-hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Semoga situasi di Surabaya segera membaik dan aktivitas sosial ekonomi dapat kembali berjalan normal. Masyarakat Surabaya diharapkan dapat bersatu padu untuk membangun kembali kota tercinta ini dan menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan kondusif bagi semua.