Viral Kasus Raya, Banyak Gen Z Borong Obat Cacing untuk Dikonsumsi, Amankah?

  • Maskobus
  • Aug 29, 2025

Kasus tragis yang menimpa Raya, seorang balita di Sukabumi yang meninggal dunia akibat infeksi cacing, telah memicu kepanikan di kalangan masyarakat, khususnya generasi Z (Gen Z). Gelombang kekhawatiran ini termanifestasi dalam tren memborong obat cacing yang ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak anak muda yang merasa perlu mengonsumsi obat cacing sebagai langkah preventif, bahkan tanpa adanya indikasi medis yang jelas. Lantas, amankah tindakan ini? Apakah konsumsi obat cacing secara mandiri tanpa resep dokter dibenarkan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penting untuk memahami bahwa penggunaan obat cacing tidak bisa dilakukan sembarangan. Dokter spesialis anak sekaligus pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, dr. Gina Noor Djalilah, menegaskan bahwa pemberian obat cacing harus mengikuti panduan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Menurut dr. Gina, pemberian obat cacing secara rutin dianjurkan setiap 6 bulan sekali, terutama di daerah endemis cacingan. Namun, bagi mereka yang tinggal di daerah non-endemis, konsumsi obat cacing sebaiknya hanya dilakukan berdasarkan indikasi medis yang jelas, yaitu setelah dilakukan pemeriksaan tinja dan terbukti positif terinfeksi cacing.

Data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi infeksi cacing di Indonesia masih cukup tinggi. Survei di 40 desa pada 10 provinsi menunjukkan angka infeksi cacing berkisar antara 2,2% hingga 96,3%, dengan kelompok usia sekolah 5-14 tahun sebagai yang paling rentan. Iklim tropis Indonesia, dengan kondisi lingkungan yang lembab, sanitasi yang kurang memadai, dan kepadatan penduduk yang tinggi, menjadi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka cacingan di Tanah Air, mencapai sekitar 28%.

Viral Kasus Raya, Banyak Gen Z Borong Obat Cacing untuk Dikonsumsi, Amankah?

Fenomena Gen Z yang berburu obat cacing ini, menurut dr. Gina, kemungkinan besar dipicu oleh rasa khawatir yang berlebihan setelah mencermati pemberitaan tentang kasus Raya di Sukabumi. Ketakutan ini mendorong mereka untuk mengambil tindakan preventif sendiri dengan mengonsumsi obat cacing tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Padahal, infeksi cacing tidak selalu menimbulkan gejala yang khas. Pada banyak kasus, infeksi cacing ringan hanya menimbulkan gejala-gejala seperti kelelahan, kantuk, wajah pucat, dan malnutrisi, yang seringkali diabaikan atau disalahartikan sebagai gejala penyakit lain.

Infeksi cacing pada manusia umumnya disebabkan oleh beberapa jenis cacing, di antaranya cacing gelang, cacing cambuk, dan cacing tambang. Cacing gelang, misalnya, dapat menginfeksi tubuh manusia melalui telur yang menempel pada sayuran atau buah-buahan yang tidak dicuci bersih. Setelah masuk ke dalam tubuh, cacing gelang dewasa dapat tumbuh hingga mencapai panjang 20-30 cm dan menghasilkan hingga 200.000 telur setiap hari. Keberadaan cacing gelang di dalam usus halus dapat merusak lapisan usus dan menyebabkan diare, yang pada akhirnya mengganggu penyerapan karbohidrat dan protein.

Cacing cambuk, jenis cacing lain yang sering menginfeksi manusia, dapat menghasilkan 5.000-10.000 telur per hari. Cacing ini menancapkan kepalanya ke dinding usus besar, menyebabkan luka dan peradangan pada usus. Infeksi cacing cambuk yang parah dapat menyebabkan diare yang bercampur lendir dan darah.

Sementara itu, cacing tambang dapat menghasilkan 15.000 hingga 20.000 telur per hari. Larva cacing tambang dapat menembus kulit kaki, masuk ke dalam aliran darah, dan kemudian menuju ke usus halus, paru-paru, dan jantung. Infeksi cacing tambang dapat menyebabkan luka pada usus yang lebih dalam dan menimbulkan pendarahan yang lebih parah dibandingkan jenis cacing lainnya.

Mengingat dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh infeksi cacing, pencegahan menjadi kunci utama. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan langkah yang sangat penting untuk mencegah infeksi cacing. Selain itu, pemberian obat cacing secara teratur juga dapat membantu mencegah infeksi cacing, terutama pada anak-anak yang rentan terpapar telur cacing.

dr. Gina menjelaskan bahwa pemberian obat cacing dapat dimulai sejak anak berusia 2 tahun, karena pada usia ini anak-anak sudah mulai aktif bersentuhan dengan tanah dan lingkungan sekitar. Namun, ia menekankan pentingnya mengikuti anjuran dan dosis yang tepat dalam pemberian obat cacing, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Pemerintah, melalui program pencegahan cacingan, menyarankan pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk anak usia 1-12 tahun. Program ini seringkali dilakukan di Posyandu atau sekolah, biasanya pada bulan Februari dan Agustus. Namun, untuk daerah yang bukan endemis cacingan atau pada orang dewasa, pemberian obat cacing sebaiknya didasarkan pada indikasi medis yang jelas, yaitu setelah dokter memastikan adanya infeksi cacing melalui pemeriksaan tinja.

Selain itu, penggunaan jenis obat dan dosis juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Meskipun beberapa jenis obat cacing dijual bebas, penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker untuk menentukan dosis yang tepat sesuai dengan kondisi dan jenis cacing yang menginfeksi.

Obat cacing umumnya aman jika digunakan sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Setiap jenis obat cacing bekerja dengan cara yang berbeda, misalnya dengan melumpuhkan cacing agar mudah keluar dari tubuh atau dengan mencegah cacing menyerap nutrisi.

Meskipun relatif aman, obat cacing juga dapat menimbulkan efek samping ringan seperti mual, muntah, atau pusing. Namun, jika efek samping tersebut berlanjut atau menjadi parah, segera hubungi dokter.

Selain mengonsumsi obat cacing, perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi kunci utama dalam mencegah infeksi cacing. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi cacing antara lain:

  • Menjaga kebersihan tangan: Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah beraktivitas di luar rumah, setelah menggunakan toilet, dan sebelum makan.
  • Rajin memotong kuku: Kuku yang panjang dan kotor dapat menjadi tempat bersarangnya telur cacing.
  • Mencuci sayur dan buah sebelum dikonsumsi: Telur cacing seringkali menempel pada sayuran dan buah-buahan yang tidak dicuci bersih.
  • Memastikan air minum matang dan berasal dari sumber yang bersih: Air yang tidak bersih dapat mengandung telur cacing.
  • Menggunakan alas kaki saat keluar rumah: Larva cacing tambang dapat menembus kulit kaki.

Dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mengonsumsi obat cacing sesuai dengan anjuran dokter, kita dapat mencegah infeksi cacing dan menjaga kesehatan keluarga. Jangan panik dan terburu-buru mengonsumsi obat cacing tanpa indikasi yang jelas. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan aman.

Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa kesehatan adalah investasi berharga. Jangan abaikan gejala-gejala yang mungkin mengindikasikan adanya infeksi cacing. Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala seperti kelelahan, kantuk, wajah pucat, diare, atau sakit perut. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, infeksi cacing dapat diobati dan dicegah agar tidak menimbulkan komplikasi yang serius.

💬 Tinggalkan Komentar dengan Facebook

Related Post :